02 September 2008

Lelaki Tua dan Kisah Purnama

Teks Monoplay: Ibed Surgana Yuga

Seorang lelaki tua tiba-tiba membelah kerumunan penonton dari belakang.

Selamat malam semuanya. Permisi, permisi, permisi .... (Gembira) Wah, banyak sekali orang di sini. Belum pernah kurasakan begini banyaknya orang di tempatku yang sempit ini. Oh, betapa tersanjungnya aku dikunjungi seperti ini. Terima kasih, terima kasih banyak atas kedatangan Anda semuanya.

Tapi ngomong-ngomong, ada acara apa gerangan Anda semua berkumpul di sini? (Tiba-tiba ia melihat orang-orang itu pada beranjak, berhamburan dan menghilang) Eh, e, mau ke mana kalian? Hei ..., kenapa kalian pergi? Hei, hei, duduklah barang sejenak lagi! Hei ...! (Sedih dan tertekan) Kenapa kalian tinggalkan aku lagi? Kenapa kalian cuma datang untuk jadi bayang-bayang? Sudah terlalu banyak bayangan di tempat ini. Bahkan yang kutunggu-tunggu pun cuma bayangan.

Lelaki tua itu – Smara namanya – adalah seorang kesepian. Tapi ia tak sendirian. Ia bersama Lawu, seekor anjing kesayangannya – bukan anjing betulan. Hari-harinya adalah hari-hari menunggu Ratih, seorang perempuan yang meninggalkannya. Ah, tepatnya bukan meninggalkan, tapi keterpaksaan oleh sebuah kejadian keparat yang memisahkan mereka. Lelaki tua itu tahu bahwa Ratih yang ditunggunya tak akan datang.

Setelah menyaksikan bayangan orang-orang yang pada pergi, Smara berkeliling ruangan, melihat-lihat tanpa tujuan.

Kembali lagi ke tempat ini. Selalu begini. Ya, ke mana lagi? Tak ada yang lain. Inilah satu-satunya rumah sekaligus penjara bagiku.

Menyadari semuanya tetap tidak berubah, Smara duduk, memandang kekosongan.

Apa kabarmu, Ratih. Sedang apa kau di sana, sayang? Mmm, biar kutebak. Kau pasti sedang baca novel Márquez. Kau sedang baca yang mana? Sang Jendral dalam Labirinnya? Klandestin di Chile? Atau Caldas? Ah, jangan-jangan kau baca lagi Seratus Tahun Kesunyian. Waktu itu kau sudah membacanya tujuh kali setelah sebulan kau mendapatkannya di toko buku bekas. Aku sekali saja sudah mumet dibuatnya. Dan kau selalu komentar, “Novel itu dinikmati, Smara sayang, bukan dipikir hingga mumet.” Tapi percayalah, aku suka Márquez. Benar. Aku tidak bohong. Ya, karena cerita-ceritanya selalu membuat kepalaku mumet. Itulah yang membuat aku suka padanya. Dan aku paling suka mengingat cerpennya yang berjudul Aku Hanya Datang untuk Memakai Telepon. Entah kenapa, tokoh Maria de la Luz Cervantes dalam cerpen itu – perempuan yang hendak mencari telepon itu – selalu kubayangkan adalah kau, Ratih. Yaaa, walaupun kau tidak suka aku membayangkan begitu.

Sedang musim apa di sana, Ratih? Musim hujan? Semi? Atau musim gugur? Musim salju? Wah, betapa beruntungnya kau bisa merasakan salju. Sejak kecil aku bermimpi didinginkan oleh salju. Bagiku, salju adalah benda putih khayali yang mendinginkan jiwa, tapi tak lantas membekukannya.

Di sini, asal kau tahu saja, Ratih, musim selalu tidak tentu. Tiba-tiba panas menyentak tak tertahankan. Aspal jalanan pun meleleh karenanya. Tiba-tiba hujan angin yang ganas. Atap rumah berhamburan. Pohon-pohon tumbang. Kau ingat, papan reklame yang di simpang kota itu, di mana di bawahnya kita bertemu untuk pertama kalinya, ia sudah roboh diterjang angin. Juga pohon beringin di alun-alun, di mana aku sering menunggumu pulang kerja.

Alam sudah tak bersahabat sekarang. Atau malah manusia yang mengingkari persahabatannya dengan alam? Yang kurasakan alam sering menjelma makhluk menakutkan yang beringas. Sering kali ia lebih beringas dari orang-orang itu. Aku tak tahan dengan suasana ini, Ratih. Aku mau pindah saja dari sini. Tapi ke mana? Hanya ini satu-satunya tempat yang kupunya. Lagian aku tidak mau menunggumu di tempat lain.

O ya, apa di sana juga sedang malam seperti di sini, Ratih? Atau di sana baru saja menginjak subuh, dengan ayam-ayam jago yang mulai berkokok? Kukuruyuk .... (Tertawa agak mengejek) Ah, apakah di sana ada ayam jago? Pasti tidak ada. Atau di sana tidak ada siang dan malam? Di sana tidak ada waktu yang harus dihitung? Di sana semuanya bergerak tanpa keberadaan waktu? Di sana .... Ooohh (menangis), di sana, di sana, di sana .... Di manakah sebenarnya kau, Ratih? Tempat macam apa yang diberikan orang-orang itu padamu?

(Seakan menolak kesedihannya) Ooo, tidak. Tidak. Aku sama sekali tidak bosan menunggumu. Aku belum lelah, Ratih. Lihatlah, aku masih demikian bersemangat menunggumu. Sebelum tubuh ringkihku ini dimakan tanah, aku akan tetap di sini. Ya, menunggumu. Seperti janjiku. Dan Lawu pun masih setia menunggu .... (tiba-tiba teringat sesuatu).

Lho (celingukan, mencari-cari), Lawu ..., Lawu ..., di mana kau, Lawu? Lawu ....

Smara mencari-cari ke segala arah. Ia seperti mengalami sebuah kehilangan yang besar. Tapi kemudian, Lawu – anjing kesayangan yang dicarinya itu – ditemukannya terbengong di sebuah sudut.

Hei, sedang apa di sana, Lawu? Kenapa kau bengong begitu? Sedang sedih? Sini anakku sayang. (Menghampiri Lawu, lalu mengambil dan mendekap, lalu membelai-belai bulunya)

Kenapa kau ikut sedih? Kau yang selalu meyakinkan aku untuk tidak bersedih, sekarang mengapa malah kau sedih, Lawu? Kau selalu bilang, kan, kalau ibumu pasti akan kembali? Ya, membawa tulang-tulang ikan dari rumah makan buatmu dan sebungkus rokok kretek buat ayahmu ini. Bukankah kau yang selalu bilang begitu, Lawu? Sudahlah, jangan menangis.

Kau memang tak lagi bisa makan tulang-tulang ikan yang lezat dan dengan cepat bisa membuatmu gendut. Sekarang kau cuma mendapat sejumput sisa makanan basi yang kukumpulkan dari bak-bak sampah pinggir jalan. Tubuhmu kian kurus. Aku juga tidak bisa menghisap rokok kretek lagi karena tak ada yang membelikannya.

Dulu, ketika aku masih perokok berat, paru-paruku selalu sakit, dadaku sesak, dan aku selalu pura-pura tak terjadi apa-apa. Biar ibumu tidak khawatir. Tapi sekarang setelah hampir empat puluh tahun tidak merokok, paru-paruku malah tambah parah. Mungkin ia sudah busuk. Asap demi asap rokok kretek itu menjelma ulat-ulat pengerat daging dalam tubuhku. Serupa belatung pemakan bangkai. Suaraku jadi serak sebelum waktunya. Volumenya menurun drastis hingga kau pun sering tak mendengar panggilanku.

Apakah ibumu tahu keadaan kita, Lawu? Ia pasti tahu. Ibumu punya kekuatan firasat yang luar biasa. Kau ingat, kan, ketika kau tertabrak mobil di depan rumah hingga kau pingsan dan mengalami luka dalam, ibumu langsung menelepon dari kantornya dan menanyakan apa yang terjadi denganmu. Dia benar-benar perempuan yang mengerti dan menyayangi kita.

Mmm? Jangan sampai tahu? Kenapa? Ya, kasihan juga kalau ibumu terus memikirkan kita. Aku takut ia lebih menderita dari kita.

Sudahlah, Lawu. Bermainlah sana. Aku mau di sini saja. Tubuhku makin tak sanggup mengantarmu jalan-jalan. (Melepas Lawu) Aaahh, jangan kau paksa aku untuk menemanimu. Jangan manja. Belajarlah bermain sendiri. Sana, ajak saja si ... eee .... Ah, siapa nama anjing Pak Hari itu? Aku lupa. Ajak saja dia jalan-jalan ke taman kota. Ingat, hati-hati kalau menyeberang jalan. Jangan lupa pulang sebelum tengah malam.

Apa? Kau mau di sini saja? Ya baiklah kalau begitu. Jalan-jalan saja keliling ruangan ini bila kau mau. Kalau mau kencing, mintalah aku untuk membuka pintu. Aku tahu kau sering diam-diam mengencingi tembok. Kau tak kan bisa mengibuliku, Lawu. Hidungku masih lumayan tajam untuk sekadar mencium bau kencing anjing. Mentang-mentang aku tua begini lantas kau kira aku sudah dungu? Begitu? Kau salah. Sana!

Duduk lagi memandang kekosongan.

Ratih, kenapa orang-orang itu hanya membawa kau? Mengapa aku tidak diseretnya serta, Lawu juga, sehingga kita masih bisa bersama walau di tempat asing yang menyakitkan? (Tertawa getir) Betapa bodohnya aku berharap begitu. Mereka itu orang-orang bengis yang cerdas. Mana mungkin ia memberi kesempatan pada orang yang saling menyayangi untuk selalu bersama, bahkan dalam rajaman sekali pun. Tidak. Mereka terlalu baik jika melakukannya.

Aku selalu mengingat saat itu. Walaupun aku ingin melupakannya, tapi setelah kupikir-pikir, jika aku berusaha melupakannya, itu berarti aku sedang berusaha melupakanmu, membuangmu. Tidak. Aku tidak ingin melupakanmu, Ratih. Makanya, aku selalu mengingat saat itu, kejadian itu, walau begitu menyayat.

Ketika itu purnama. (Tertawa geli) Aku sering memanggilmu dengan sebutan “Bulan”. Dan kau tak suka itu. Kau jengkel. Tapi aku terus memanggilmu “Bulan, Bulan, Bulan” hingga puncak kejengkelanmu memaksa untuk menyerah dan menerima panggilan itu. Lalu kian lama kau menerimanya sebagai semacam pengikat di antara kita. Kita jadi begitu menyenangi bulan, apalagi kalau sedang purnama.

(Kata-katanya mulai berat) Ya, ketika itu malam purnama. Kau sedang membacakan silsilah keluarga Jose Arcadio Buendia yang membingungkan itu padaku untuk ketiga kalinya. Tapi walaupun membingungkan, aku masih mengingat beberapa nama dari silsilah penuh incest dan haram jadah itu. Jose Arcadio, Aureliano, Segundo, Remedios, Amaranta, Ursula .... Dan tiba-tiba pintu diketuk dengan kasar oleh beberapa tangan. Kau berhenti pada silsilah tentang tujuh belas Aureliano. Lawu menggonggong tanpa henti.

Smara tersentak. Seakan-akan ketukan pintu yang diceritakannya terdengar saat itu juga. Ia bangkit, lalu beringsut menuju pintu.

Siapa? Ya, sebentar. (Membuka pintu) Mereka empat lelaki berseragam dengan pistol terselip di masing-masing pinggang mereka. Yang paling depan langsung mengangkat leher bajuku dengan kasar.

“Di mana kau sembunyikan Dewi Ratih Arianti?” tanyanya. Lalu tiga yang lain masuk dan menemukanmu. Mereka menyeretmu keluar dengan novel Seratus Tahun Kesunyian yang masih dengan erat kau pegang. Lawu terus menggonggong mengikutimu seakan berusaha membebaskanmu. Tiba-tiba salah satu dari mereka mengeluarkan pistolnya dan dorrr! Suara Lawu terputus. Kepalanya bocor. Tak bernapas lagi. Aku berusaha mengejarmu tapi orang yang memegangku mendorong tubuhku hingga roboh (melakukannya), lalu ia menginjak-injakku dengan sepatu larsnya (berlaku sedang dinjak-injak, kesakitan, minta tolong, memelas, mengerang).

Setelahnya aku lupa. Aku terjaga ketika siang sudah membakar halaman. Dan mayat Lawu masih di sana. Lalat-lalat mengerubunginya, menjilati darahnya yang mengering dan hitam.

Aku sama sekali tak paham kejadian macam apa itu. Bahkan sampai sekarang. Dan aku tak mau menanyakannya pada orang-orang sebab banyak juga dari mereka yang mengalaminya.

Aku hanya ingat sedikit kata-kata mereka yang samar terdengar. Mereka menyinggung pekerjaanmu. Ada apa dengan pekerjaanmu? Bukankah kau hanya seorang pewarta?

Orang yang memainkan monoplay ini melepaskan perannya.

Huuhhh ..., capai juga main teater. Penata lampu, tolong nyalakan lampu gedungnya. (Berdehem beberapa kali) Suara saya jadi serak. Minum dulu ah. Eh, pintunya ditutup dulu (menutup pintu yang tadi dibuka lelaki tua, lalu menuju tempat minuman lelaki tua dan meminum isinya sedikit). Eeehhkk ..., dasar minuman orang tua. Apek. Tapi lumayan buat membasahi tenggorokan (lanjut meminumnya hingga habis).

Penata makeup, tolong ambilkan cermin. Makeup saya rusak enggak nih?

Seseorang naik ke panggung membawakannya cermin.
Lalu orang itu bercermin sambil membenahi riasan wajahnya. Setelah selesai, lalu mengembalikan lagi cerminnya.

(Bertanya pada penonton) Bagaimana komentar Anda tentang nasib si Smara yang saya mainkan tadi?

Selanjutnya ia berimprovisasi dan melakukan dialog dengan penonton tentang si lelaki tua Smara. Hingga kemudian ia kembali memasuki perannya.

Apa kau ngantuk, Lawu? Lapar? Ya, aku juga lapar. Tapi kau tahu sendiri, tadi kita berkeliling kota mencari makanan, tapi tak seorang pun yang menyisakannya buat kita. Tempat minum ini juga sudah tak ada isinya. Sudah tidak ada belas kasihan lagi buat kita. Sini, Lawu anakku sayang (mengangkat Lawu). Tubuhmu makin kurus, tapi kian berat saja kurasa. Biar kupeluk kau (lalu memeluknya). Peluk jugalah ayahmu ini. Dengan saling berpeluk, rasa lapar akan hilang pelan-pelan. Aku masih ingin percaya kata orang-orang, cinta dapat mengalahkan apa saja.

Aku jadi teringat ketika kau kami angkat menjadi anak. Aku bertanya pada ibumu, mungkinkah manusia punya anak berupa anjing? Lalu ibumu menjawab, “Kalau Tuhan menghendaki, kenapa tidak? Cintalah yang membuat ia sah menjadi anak kita, bukan statusnya sebagai binatang.” Wah, aku suka sekali jawaban ibumu itu. Dan sejak itu kami mengangkatmu menjadi anak, walau kami belum menikah.

Kau mau kencing, Lawu? Bagus, kau sudah mulai sopan sekarang. Sini kuantar kau keluar (beranjak, membuka pintu dan menurunkan Lawu untuk kencing). Kencinglah. Kenapa? Kau malu kencing di depanku ya? (Tertawa) Jangan sok sopan. Tapi baiklah. (Membalikkan badan) Sekarang kencinglah. Aku tidak akan melihatnya. (Membalikkan badan lagi) Sudah? (Mengambil Lawu) Ya Tuhan, lihat Lawu, bulan sedang purnama. Tapi kenapa ia bersemu merah?

Smara tidak melanjutkan pandangannya pada bulan. Ada semacam ketakutan, walau terbersit raut kerinduan. Bergegas ia menutup pintu, lalu duduk lagi sambil memangku Lawu.

Sekarang aku didera perasaan rindu sekaligus dendam pada bulan purnama. Seakan purnama telah memberi dan kemudian merebutnya kembali.

Kau sudah ngantuk, Lawu? Mari kuantar kau ke tempat tidurmu. (Beringsut menuju sebuah sisi lantai, lalu menidurkan Lawu di lantai setelah sebelumnya mengalasi dengan jaket yang dipakainya) Tidurlah yang nyenyak, Lawuku sayang. Kita lawan segalanya ini. Mimpilah jika kau masih bisa bermimpi.

(Duduk kembali) Ratih, sekarang bulan purnama. Tapi aku sering benci melihatnya, dan di saat yang sama aku juga sangat rindu memandangnya. Kau pernah ceritakan padaku tentang gurat kelabu di bulan itu. “Lihatlah, Smara sayang, warna kelabu yang hampir memenuhi separuh bulatan bulan itu,” katamu sambil menunjuk bulan yang sedang purnama. Lalu kau bilang, warna kelabu itu adalah pohon beringin. Di bawahnya, seorang gadis tengah menenun kain ditemani seekor anjing. Gadis itu menenun di sana, begitu setia, entah sejak kapan, entah sampai kapan.

Lalu kukatakan padamu, gadis itu adalah kau, dan anjingnya adalah Lawu anak kita. Kau terdiam, lalu pelan bertanya, “Lalu kau di mana, Smara sayang?” Ya, di mana aku? Sampai sekarang aku tak bisa menjawabnya. Kau pun tak menemukan jawaban, walau sekadar kiasan, walau sekadar dusta.

Ketika kecil, di kampung pedalaman sana, aku selalu takut pada gerhana bulan. Ketika hal itu terjadi, orang-orang seperti kalang kabut, mereka memukul ketongan, lesung, atau apa pun yang bisa berbunyi. Mereka berteriak “Gerhana! Gerhana! Gerhanaaa ...!” Aku ketakutan dan bersembunyi di ketiak ayahku, tak berani untuk sekadar melirik bulan. Ayah bilang, bulan mau dimakan Kala. Kala adalah makhluk jahat yang ingin memiliki bulan dengan menelannya. Maka, kami harus menabuh bebunyian, agar Kala ketakutan dan urung memakan bulan.

Tapi, bagaimana pun juga aku begitu rindu melihat bulan purnama. Ya, aku tak dapat membohongi diri sendiri. Masihkah kau di sana, Ratih? Menenun kain di bawah pohon beringin?

Smara beranjak menuju pintu, membukanya, lalu memandang langit. Dia tersentak.

Ya Tuhan, gerhana bulan! (Menjadi kalut, kebingungan, ketakutan) Lawu! Lawu! Bangunlah, Lawu! (Menuju tempat tidur Lawu) Bangun, Lawu! Bulan sedang gerhana.

Tapi Lawu tak mau bangun.
Smara mondar-mandir kalang kabut, antara luar pintu dan tempat tidur Lawu.

Bangun, Lawu! Kala hendak memakan ibumu. Ya Tuhan .... Sabar, Ratih sayang, tak kan kubiarkan Kala jahat itu menelanmu. (Lalu ia mengambil tempat minumnya dan memukul-mukulnya) Pergi kau, Kala! Jangan ganggu Ratihku. Ya Tuhan, bulan makin kelam. Kala berhasil menelannya.

(Tertekan. Menangis) Ratih sayang, maafkan aku yang tak bisa menyelamatkanmu untuk kedua kalinya. Tapi percayalah, aku masih menunggumu di sini. Percayalah, Ratihku.

Orang yang memerankan Smara kembali melepaskan perannya.

(Berdehem karena suaranya serak) Bila Anda jalan-jalan ke sebuah kota yang punya persimpangan dengan bekas papan reklame yang roboh di pinggirnya, susurilah jalan yang menuju arah matahari terbit. Tidak sampai satu kilometer, di depan sebuah tokok bahan bangunan, Anda akan melihat sebuah rumah tua, kecil dan kelam. Di sanalah Smara dan Lawu menunggu Ratih. Hingga sekarang.

Jogja, April 2008

Catatan:
Mementaskan naskah ini mohon memberitahu penulis
ibed_sy@yahoo.com

0 komentar: