Oleh: Ibed Surgana Yuga
Konon, para insan teater remaja (baca: ekstrakurikuler teater di sekolah) di Denpasar tengah terkaget-kaget dan tidak dapat menerima peniadaan Lomba Drama Modern (LDM) dalam Pekan Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar 2008. Peniadaan ini menurut Jauhar Mubarok (Bali Post, 23 Maret 2008) "belum masuk dalam logika mereka". Membaca tulisan Mubarok, saya membaca siratan beberapa sisi ketergantungan insan teater remaja di Denpasar pada penyelenggaraan LDM-PSR setiap tahunnya, sehingga event ini seakan adalah satu-satunya wahana bagi mereka untuk mengekspresikan diri lewat teater (dan mendapatkan juara) serta untuk "merengkuh eksistensi" serta "ingin dihargai". Jangan-jangan LDM-PSR juga diposisikan sebagai satu-satunya pelegitimasi untuk meraih capaian-capaian tersebut dalam dunia teater remaja di Denpasar.
Saya dapat memahami sikap para insan teater remaja ini. Sebagaimana psikologi para remaja umumnya, mereka memiliki heroisme tersendiri ketika menghadapi masalah seperti ini dan kadang mengabaikan pemahaman terhadap masalah yang ada di sebaliknya. (Namun sering kali orang-orang yang sudah tidak remaja lagi mendukung heroisme mereka dengan jauh lebih heroik.) Dan jangan lupa, secara umum remaja punya potensi egois yang lebih besar. Di samping itu, insan teater remaja (sekali lagi, baca: ekstrakurikuler teater di sekolah) barangkali jarang sekali ada yang memiliki orientasi terhadap teater itu sendiri. Mereka lebih berorientasi pada "merengkuh eksistensi" serta "ingin dihargai" itu, atau dengan kata lain aktualisasi diri sebagai manusia secara umum tanpa memperhitungkan apakah ia menggunakan wahana teater atau yang lainnya.
Perbedaan Logika
Saya tidak tahu persis sebanyak apa event-event teater remaja di Denpasar, baik yang kompetitif maupun tidak. Kenapa LDM-PSR punya nilai tersendiri dibandingkan dengan Gatel Teater La Jose SMAK Santo Yosep atau Festival Monolog Teater Tiga SMAN 3 Denpasar, misalnya? Saya juga pernah melihat peminat beberapa event teater remaja yang diselenggarakan sekolah menengah tertentu di Denpasar cenderung sepi peminat. Ada apa ini? Soal legitimasi dan gengsi? Atau soal sentimen? Atau malah sifat kompetitif yang dangkal sehingga berujung pada kemunculan gap antarkelompok atau bahkan dendam?
Kalau jawabannya adalah yang terakhir, maka dapat diduga pemosisian eksklusif terhadap LDM-PSR. Ia barangkali adalah satu-satunya event yang "netral", sehingga menjadi prioritas dan akhirnya menimbulkan predikat bergengsi dan legitimate padanya untuk menentukan karya kreatif insan teater remaja mana yang unggul. Jangan lupa pula, ia diselenggarakan oleh pemerintah yang notabene secara struktural adalah lembaga di atas sekolah – tempat bernaung kelompok teater remaja. Pihak birokrasi sekolah memiliki kepentingan yang khusus terhadap lembaga atasannya itu, sehingga jika suatu legitimasi – juara, misalnya – yang ditentukan oleh lembaga pemerintah lebih menjadi prioritas.
Ini sudah menjadi semacam logika yang berlaku di dunia struktural birokrasi pemerintahan. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sedikit-banyak juga dipengaruhi oleh logika yang demikian, "logika kepentingan", "logika jilat-menjilat". Logika inilah yang sering tidak masuk dalam logika insan teater dan insan kesenian pada umumnya, walaupun sebenarnya ia juga kerap berlaku dalam politik kesenian. Banyak insan teater yang masih berkutat pada "logika ideal" bahwa pemerintah mesti menjadi payung bagi kegiatan kesenian. Dan sering kali ada arogansi dari insan teater dengan melontarkan berbagai klaim negatif terhadap pemerintah, sedangkan ia sendiri sering mengabaikan bagaimana kualitas karya, profesionalisme, manajerial, dan sebagainya, yang menjadi bagian kerja teaternya.
Pemerintah dan insan teater punya ukuran ideal yang berbeda yang lahir dari logika yang berbeda. Karena masalah ini, bukan rahasia lagi bahwa sering tercipta semacam suasana permusuhan di antara keduanya. Ada semacam dendam yang merasuk, dipicu oleh kejadian tertentu, namun sering pula tercipta kerinduan karena kesalingkepentingan. Sedikit-banyak, demikian pula yang terjadi pada kasus LDM-PSR kali ini.
Keluar Lingkaran
Salah satu jalan untuk mengatasi konflik logika berbeda dan rindu-dendam itu, selain melawannya secara konfrontatif, adalah dengan keluar dan melepaskan diri dari lingkaran tersebut dan membuat lingkaran sendiri yang dibangun dengan keyakinan pada logika sendiri. Dengan kata lain, tidak meladeni logika birokrasi pemerintah – walau tidak selamanya, barangkali.
Bagaimana pun, LDM-PSR memang penting bagi dinamika perteateran remaja pada khususnya. Namun ketergantungan terhadapnya dapat menjebloskan insan teater remaja ke dalam ukuran tunggal tentang kualitas kerja estetik yang kemudian tentu saja membatasi wilayah jelajah estetik dan kemerdekaan berkreasi. Mesti ada yang menempuh jalur berbeda serta melempar jauh-jauh sentimen dan sifat kompetitif yang dangkal yang berujung pada kemunculan gap antarkelompok.
Nah, ini masalahnya: bagaimana melepas sifat tersebuat?
Saya tidak tahu apakah ada semacam forum dialog antarkomunitas teater remaja di Denpasar, baik dalam hal wacana estetik maupun penggalangan relasi, yang bukan hanya menjadi ajang unjuk gigi lalu setelah itu pulang dan tidak ada "perasaan berdosa" jika tidak menonton pentas kelompok lain – salah satu moral jelek insan kesenian pada umumnya. Adakah forum teater remaja di Denpasar yang mendialogkan secara bersama tentang berbagai dimensi kerja teater yang tanpa dibayang-bayangi oleh sifat kompetitif – apalagi yang dangkal – antarkomunitas? Kalau ada, apa yang telah dihasilkannya? Sudahkah ia mampu memberikan pemahaman tentang teater kepada para remaja yang mengikuti ekstrakurikuler ini di sekolahnya, sehingga akhirnya mereka bisa menentukan tepat atau tidanya pilihan mereka terhadap teater untuk pengaktualisasian diri?
Apakah ada kelompok teater remaja yang independen (di luar naungan institusi sekolah, misalnya) di Denpasar? Tipe komunitas teater remaja seperti ini adalah salah satu jawaban untuk keluar dari lingkaran birokrasi pemerintah. Juga, ini adalah cara untuk menghindari gradag-grudug insan teater remaja yang semata untuk tujuan "ekstrakurikuler" – skor khusus pada raport, misalnya. Teater bukan sekadar ajang lenggak-lenggok untuk unjuk gigi, "Inilah aku!" Ini hanya turunan makna yang ke-1001 dari teater.
02 September 2008
Teater Remaja, LDM-PSR, Rindu-dendam pada Pemerintah
Label:
esai teater
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar