25 Agustus 2008

Nama-nama yang Anonim

Teks Monoplay: Ibed Surgana Yuga

Lewat suatu celah menyerupai jendela, genit ia menyapa.

Hai, apa kabar? Kalian punya waktu, nggak? Aku pingin bohong nih!

Pause.

Tiba-tiba ia muncul dari kerumunan orang-orang.

Ketika bangun tidur, aku temukan seseorang sedang duduk di sampingku. Dia mirip sekali denganku. Katanya, "Hai! Selamat pagi! Sudah berapa serpih kau kumpulkan?"


Aku diam.

Lalu ia bilang lagi, "Kulihat tubuhmu hancur lebur saat tidur. Aku merasa iba. Lalu aku berusaha menolongmu dengan mengirimkan mimpi ke tidurmu. Aku berharap dalam mimpi itu kau bisa mengumpulkan serpih-serpih tubuhmu yang berserakan."
Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya. Hanya satu hal yang bisa aku salahkan padanya, yaitu ucapan "selamat pagi"-nya. Padahal aku selalu bangun sore hari.

Tapi, aku heran, kami tiba-tiba saja menjadi akrab. Sejak kejadian bangun tidur itu, ke mana-mana kami selalu bersama. Saling rangkul. Kami keluar kamar berangkulan, makan berangkulan, esoknya tidur berangkulan, bahkan mandi pun kami tetap berangkulan – hingga sempat iseng aku mengintip adik kecilnya, aku bandingkan dengan adik kecilku: ternyata sama persis!

Sekarang, aku tidak sedang ingin membingungkan kalian semua. Karena aku sendiri sedang bingung: aku tidak tahu apakah diriku yang sekarang ini adalah diriku sendiri atau diri orang itu.
Ia melihat orang yang diceritakannya itu di bawah celah yang menyerupai jendela. Segera ia beranjak menyongsong orang itu. Begitu akrab.

Hai! Ke mana saja kau? Aku kira kau masih sembunyi di tubuhku ...

Ooo, jangan khawatir, aku tidak bilang pada mereka kalau selama ini kau sembunyi di tubuhku. Aku cuma bilang kalau kau menghilang begitu saja. Dan aku tak tahu kau ke mana.

O ya, bagaimana dengan KTP-mu? Sudah kelar?

Aaahh, bodoh sekali aku! Bagaimana kau bisa dapat KTP kalau nama saja kau belum punya?

Tidak usah putus asa! Tadi aku coba mereka-reka sebuah nama buatmu. Tapi, maaf, ternyata sulit sekali mencari nama buatmu. Setiap kucoba nulis sebuah nama, selalu saja yang tertulis adalah namaku. Awalnya, kukira itu hanya salah tulis. Ternyata tidak. Seribu kali aku coba menulisnya, seribu namaku yang tertulis.

Apa?! Kau mau pakai namaku? Hee, jangan buat lelucon di saat seperti ini, kawan! Apa jadinya jika ada dua orang dengan rupa yang sama dan nama yang sama?! Percayalah, aku akan terus berusaha mencari nama buatmu. Akan kucari kata-kata yang bagus di segala kamus, lalu kurakit menjadi namamu. Percayalah! Aku pasti bisa. Namamu pasti bagus.

Aku yang ganti nama?! Kau kan tahu sendiri, namaku sudah dikenal banyak orang. Kalau aku ganti nama, aku takut diriku tidak dikenal orang lagi. Nanti malah kau yang jadi terkenal karena memakai namaku.

Sudahlah, kawan, jangan bersedih! Aku masih berbaik hati memberikan tubuhku untuk tempat kau sembunyi. Tubuhku sangat aman. Kau rasakan sendiri, bukan? Kau tidak perlu takut dengan aparat yang mengejar-ngejarmu karena kau tidak punya identitas. Selama kau ada di tubuhku, kau tidak mungkin tertangkap. Kau dapat rasakan, bukan, tubuhku begitu nyaman? Fasilitasnya pun lengkap. Kalau ada yang kurang, kau tinggal bilang saja.

Seketika, ia berubah menjadi orang yang diajaknya bicara itu.

Kawan, sebaiknya kau bercermin dulu! Jangan mentang-mentang! Jangan membanggakan diri tidak karuan seperti itu! Ada banyak hal yang belum kau mengerti. Kau telah salah sangka. Kau bilang aku sembunyi di tubuhmu. Padahal, kaulah yang sejak lahir sembunyi di tubuhku. Kaulah yang ketakutan dikejar-kejar aparat karena identitas palsumu itu.

Kalau saja dulu aku tidak menyembunyikanmu di tubuhku, aku yakin sampai sekarang kau masih lari terbirit-birit, ketakutan, karena dikejar-kejar aparat. Atau malah telah mendekam di Nusa Kambangan. Atau mungkin dihukum tembak.

Sekarang, lihatlah dirimu sendiri. Kau ketakutan sendiri, kau bingung sendiri, kau tidak tahu apakah dirimu itu memang benar-benar dirimu atau diriku.…

Ia jadi gamang. Berlari ketakutan, mencoba melepaskan diri dari entah yang menyelimuti dirinya. Ia terus berlari, berlari ....

Tiba-tiba, ia mengubah arah larinya, menuju masa kecilnya di sekolah.

Ayo, kejar aku kalau dapat! Yeee, nggak kena, nggak kena! Weeekk ...!

Kakinya tersandung. Jatuh. Menangis.

Bu Guru, Budi nakal. Aaa ..., nggak mau, nggak mau ....

Tangisnya reda tiba-tiba.

Di ruang kelas.

Nama saya Dirgahayu Bagia Kertaraharja. Tapi Papa manggil saya Bagus. Mama manggil Adi. Nenek manggil Anto. Nah, kalo paman manggil saya Andi. Tante manggil Edi. Terus ..., pokoknya banyak deh nama panggilan saya.

Bu Guru, Bu Guru, kapan dong main lagi?

Sekarang? Asyiiikk ...!

Ia berlari. Bermain suka ria.

Tapi ia kembali pada kegamangannya ketika ia dengar aparat mengepung tubuhnya. Mengancam dengan bentakan dan tembakan. Ia diringkus.

Dalam proses diringkus itu, ia bergerak cepat ke belakang para aparat yang sedang meringkusnya itu.

Ya, dialah orangnya, Pak! Dialah yang tidak punya identitas itu. Saya sudah berusaha menolongnya, ia tetap saja bertingkah. Saya capek. Tangkap saja, Pak! Orang seperti dia memang berbahaya. Jangan diberi ampun!

Ia merasa dirinya diringkus. Diseret dengan kasar. Dicobanya berontak.

Lepaskan aku! Siapa bilang aku tidak punya identitas?! Lepaskan aku! Berikan aku kesempatan bela diri! Akan kubuktikan kalau aku punya identitas!

Ia terlepas dari ringkusan. Segera dibukanya baju dan celana. Terlihatlah tubuhnya dibalut rangkaian KTP-KTP.

Kalian bisa lihat identitasku? Identitas macam apa yang kalian inginkan? Tinggalkan tempat ini sebelum kulaporkan ke atasan kalian. Berani-beraninya kalian menghinaku. Aku tuntut dengan pasal pencemaran nama baik, baru tahu rasa kalian.

Terlepas dari tekanan aparat, ia tertawa ngakak sepuasnya.

Terima kasih identitasku, sayang. Capek, ya? Oh, kasian. Tapi kalian senang mengabdi padaku, kan? Baiklah, kukasi kalian waktu untuk istirahat. Nikmatilah ketenangan dan kebebasan ini!

Balutan KTP-KTP itu dilepaskan dari tubuhnya. Dibuainya. Disayang-sayang.

Tapi jangan sampai orang itu tahu kalau kalian adalah identitasku, ya? Nanti kalian diambilnya. Kalian tidak akan nyaman mengabdi padanya. Kalian akan diperlakukan seperti budak saja. Kalian tidak akan dapat kenyamanan kerja seperti yang aku beri. Kalian mengerti? Bagus, bagus. Kalian memang identitas-identitasku yang profesional dan punya kredibilitas tinggi.

Ada ketukan pintu.

Nah, dengar, orang itu datang lagi. Waktu istirahat kalian terpaksa aku hentikan sampai di sini. Ayo, kembali ke tubuhku.

Ia mengenakan kembali KTP-KTP itu untuk membalut tubuhnya. Namun, setelah lengkap tubuhnya terbalut, tiba-tiba ia rasakan KTP-KTP itu mencengkram tubuhnya. Begitu kuat. Cengkraman itu membuatnya sesak. Ia berusaha melepaskan diri. Tapi sia-sia. Ia merintih. Terguling. Di tengah itu semua, ia lihat orang itu menertawakannya.

He! Tolong aku! Jangan menghinaku seperti itu! Kumohon. Ayo tolong aku! Ingatlah kalau aku pernah menolongmu sembunyi di tubuhku. Tolong ....

Yang dimintai tolong tetap tak bergerak. Ia makin sekarat. Hingga akhirnya terkapar.

Pause.

Ia muncul di celah yang menyerupai jendela.

Jam berapa ya sekarang? Ma! Aku lahir jam berapa sih, Ma? Kok sekarang udah gede kayak gini?

Pause.

Ia yang tua, tubuhnya dibalut KTP-KTP yang koyak-moyak. Ia menunggu, ditemani sebuah pesawat telepon dan sebuah jam tembok yang terus berdetak. Mengusir kebosanan, ia bernyanyi. Parau dan sendu.

Pagi-pagi yang lucu ... ke mana engkau pergi ....

Heee ...! Apa kabar semuanya? Maafkan aku. Baru kali ini aku sempat bertanya kabar kalian. Maklumlah, kalian tahu sendiri, selama ini aku terlalu sibuk menunggu.

Apa?

Ya. Aku sedang menunggu matahari terbit. Kalian tahu, matahari itu akan terbit dari jam tembok ini. Begitu lama aku menunggu. Tapi matahari itu tak juga kunjung terbit.

O ya, bagaimana dengan KTP-ku yang hilang itu, hah?

Tidak usah banyak alasan! Bukankah sudah beberapa kali kubilang kalau aku memang pernah punya KTP? Dan bukankah sudah banyak kali kubilang kalau KTP itu benar-benar hilang? Surat-surat bukti kehilangan dari instansi-instansi terkait juga sudah lama kuserahkan pada kalian, bukan?

Jangan banyak alasaan! Lihat, bekas-bekasnya masih ada di tubuhku!

Semuanya sudah jelas! Jangan tanya masalah namaku lagi! Siapa yang mendesak kalian untuk mempertanyakan namaku, hah? Aku sudah punya nama sebelum aku dilahirkan!

Aaahh, sudah, sudah! Aku tidak mau tahu! Pokoknya kalian harus temukan KTP itu! Ayo, pergi sana! Aku masih sibuk menunggu.

Eh, eh, eh, tunggu! Dengar baik-baik, saat separuh matahari terbit dari jam tembok ini, kalian harus sudah kembali ke sini membawa KTP-ku. Paham?!

Ya sudah! Cepat pergi sana! Dasar! Tidak tahu diuntung!

Kembali ia bernyanyi. Sendu.

Pagi-pagi yang lucu, ke mana engkau pergi ....

Tiba-tiba ia menistakan seseorang – yang adalah dirinya sendiri.

Dasar orang tua bodoh! Kenapa tidak kau putar saja jarum jam itu? Sehingga waktu cepat berlalu, dan matahari segera terbit. Ternyata ketuaan telah menyeretmu dalam kebodohan!

Segera ia putar jarum jam tembok itu. Setelahnya, ia tampak begitu riang: menyambut sebuah kemenangan.

Wahai, siapa pun nama kalian, jangan pernah mengharap matahari akan terbit lagi di dunia kalian! Sebab sebentar lagi, matahari akan terbit di sini! Ia akan jadi milikku selamanya! Maka, nikmatilah hari-hari kalian selanjutnya tanpa matahari. Hari-hari gelap yang sempurna. Sunyi. Penuh hantu-hantu yang menakutkan.

Telepon berdering. Diangkatnya.

He! Sudah kuduga kau akan menelponku pada saat aku sedang bahagia begini. Oh, tentunya kau juga sedang bahagia, bukan? Kudengar, kau sudah punya nama. Benar?
Aku turut bahagia. Eh, berapa kau membelinya?

Mahal sekali!

O ya, ya, ya….

Coba, siapa namamu? Biar kucatat dalam agendaku.

Kau tidak sedang bercanda, bukan?

Eh, kau ingat, kan, kalau itu adalah namaku?

Iya, ya, kalau kau sudah tahu itu namaku, kenapa kau membelinya juga?

Keparat! Dasar tidak tahu diuntung!

Kesal. Ditutupnya telepon. Kemarahannya luluh ketika pandangannya jatuh pada jam tembok.

Oh, jamku sayang, ayolah terbitkan matahari itu! Percayalah, akan kuajak kau menikmati sunrise yang indah itu. Bersuka ria, bersama bule-bule berbikini di pantai. Bisa kau bayangkan tubuh mereka yang seksi. Pantat yang berisi. Payudara yang menyembul lewat bra yang minim.

Ayolah! Atau, kau mau diputar lagi? Iya? O, baik, baik. Biar segalanya lebih cepat? Ah, kau memang mengerti segalanya.

Diputarnya lagi jarum jam. Lalu ditunggunya dengan tak sabaran, sambil merayu-rayu. Diputarnya lagi. Ditunggu lagi. Diputar. Ditunggu. Diputar .... Tapi yang ditunggu tak kunjung muncul. Akhirnya ia kesal juga. Kemarahannya meledak. Dibantingnya jam hingga berantakan.

Telepon berdering. Diangkatnya.

Aku tak mau bicara denganmu sebelum kau beli nama yang baru! Jangan ...

Oh, maaf, maaf, maafkan saya. Saya bicara dengan siapa, ya?

Ya, selamat sore ....

Sudah sorekah? Benarkah ini sudah sore? Halo! Halo! Halo! Halo ...

Suaranya ditelan sebuah nada pengumumun di stasiun. Seorang petugas mengumumkan, "Mohon perhatian, waktu dengan tujuan tamasya tanpa batas akan segera diberangkatkan. Silakan periksa nama Anda masing-masing, jangan sampai tertinggal di peron. Selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan." Terdengar pluit pemberangkatan.

Ia melongok lagi lewat celah yang menyerupai jendela.

Hai, masih punya waktu? Kalau masih, jangan ucapkan selamat jalan! Tapi tolong ajari aku berbohong yang baik dan benar.

Jogja, 2004 – 2005

Catatan:
Mementaskan naskah ini mohon memberitahu penulis
ibed_sy@yahoo.com

0 komentar: