28 Juli 2009

Pertunjukan Teater “Kintir (Anak-anak Mengalir di Sungai)” Seni Teku Yogyakarta
























Seni Teku Yogyakarta dalam produksinya yang ke-6 mempersembahkan pertunjukan teater:

Kintir (Anak-anak Mengalir di Sungai)
di Pendopo Blumbang Garing (Ong Harry Wahyu), Nitiprayan
Selasa-Rabu, 4-5 Agustus 2009, 20.00 WIB.


Pertunjukan yang merupakan bagian dari Festival Teater Jogja 2009 ini mengambil bagian kecil dari epos Mahabharata, terutama bagian kelahiran Dewabrata atau Bhisma, sebagai salah satu sumber teks. Teks ini kemudian “dibenturkan” dengan teks-teks tentang pengalaman masa kecil di sungai serta kisah-kisah anak jalanan. Benturan teks-teks tersebut melahirkan peristiwa teatrikal yang tumpang tindih, dengan keberagaman emosi dramatik.

Pertunjukan dengan penulis teks dan sutradara oleh Ibed Surgana Yuga ini secara verbal menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa. Idiom pemanggungan merupakan jelajah artistik dari idiom pemanggungan pertunjukan tradisi, realisme hingga kontemporer, seperti gaya akting realis, tari tradisi, tembang, mantra atau doa Jawa, mbarang, musik elektrik, akrobat, dan lain-lain.

Cerita berkisar pada Dewi Gangga yang turun ke bumi dengan tugas melahirkan delapan wasu yang dikutuk-pastu menjadi manusia. Tujuh anak yang lahir dari rahimnya dihanyutkannya ke sungai, kecuali anak terakhir, yaitu Dewabrata yang kelak dikenal sebagai mahasenapati Bhisma. Di sisi lain, seorang ibu melahirkan delapan anak tanpa suami. Anak-anak itu lahir dari hubungannya dengan kekasih, lelaki yang memperkosanya serta lelaki yang membayarnya. Ketujuh anaknya hilang tanpa diketahui sebabnya. Mungkin anak-anak itu hanyut di sungai atau tersesat di jalanan.

Tiket gratis. Disediakan makan dan minum gratis di angkringan saat pertunjukan. Contact person: Yayan (085 6291 7362).

Penulis Teks & Sutradara: Ibed Surgana Yuga, Pelaku: Pranorca Reindra, Joe DN, Marya Yulita Sari, Andika Ananda, Jibna Sudiryo, Cahyo, Sarinah, Penata Bunyi: Lintang Radittya, Penata Cahaya: Agus Salim Bureg, Penata Gerak: Rahmad Fuadi, Pewujud Seting & Properti: Miftakul Efendi, Manajer Latihan & Panggung: Ade Puraindra, Pelaksana Produksi: Febrian Eko Mulyono, Dina Triastuti, Riski Pamulanita, Dimas, Rozita.


baca lengkapnya ...

15 Oktober 2008

Ketika Teater Sekolah hanya Pelengkap Penderita

Oleh: Ibed Surgana Yuga

Sudah menjadi hal yang lumrah di negeri ini: terjadi benturan keras ketika urusan kreativitas dikonfrontasikan dengan hal-hal yang bersifat formal. Biasanya, benturan itu berkembang menjadi semacam konflik – termasuk dalam tataran wacana. Kadang ada usaha satu pihak untuk melabrak pihak yang satunya dengan berbagai kekuatan – termasuk kekuatan kreativitas – namun yang hendak dilabrak menghadangnya dengan kekuatan handalan: birokrasi dan kekuasaan. Kadang pula satu pihak – tentunya dengan kekuatan birokrasi dan kekuasaan – merangkul pihak yang satunya lagi dengan alasan pembinaan dan penjalanan program. Dalam hal terakhir ini biasanya terjadi peristiwa “makan hati” karena satu pihak harus mematuhi selera dan aturan-aturan yang ditetapkan pihak yang satunya, yang mana biasanya menjadi belenggu bagi kebebebasan berkreativitas.

Kira-kira demikian pula yang dihadapi oleh teater sekolah (sekadar istilah untuk menyebut kelompok teater di bawah naungan sekolah). Dan fenomena-fenomena teater sekolah seperti yang ditulis Ags Arya Dipayana (Media Indonesia Minggu, 6 Maret 2005) memang benar adanya. Kekuatan-kekuatan birokrasi sekolah sering menghambat siswa-siswanya yang tergabung dalam kelompok teater sekolah untuk mengekspresikan kegelisahan dan meluaskan cakrawala kreatifnya ke luar sekolah. Alasannya begitu klasik: mengganggu proses belajar mengajar, tidak ada dana, bukan program sekolah, dan sebagainya. Ironisnya, pihak sekolah sering membanggakan siswanya jika memperoleh prestasi di bidang tersebut – seperti kejadian di Bandar Lampung yang ditulis Ags Arya Dipayana. Bahkan barangkali prestasi itu pun menjadi strategi pihak sekolah untuk menarik prestise serta perhatian lebih dari pihak atas.

Salah satu hal lagi yang membentur kehidupan teater sekolah adalah suatu masalah yang lumrah pula di negeri ini: bahwa bidang-bidang eksak lebih menarik perhatian masyarakat. Hal ini barangkali terjadi karena suatu “kekononan” yang mengatakan bahwa bidang eksak merupakan hal yang paling jitu untuk mengejar aktualitas zaman, eksistensi diri, serta keunggulan dalam persaingan kehidupan. Demikian pula dengan hal-hal yang bersifat instan, yang sekali pencet langsung jadi. Celakanya, pemahaman tersebut seringkali dianut oleh pihak pemerintah dan penyelenggara pendidikan yang terejawantah dalam kurikulum pendidikan sekolah, sehingga terposisikan menjadi yang utama. Sehingga, hal lain di luar itu, pendidikan (ekstrakurikuler) kesenian (teater) di antaranya, adalah pelengkap penderita semata. Klaim ini semakin kuat ketika orangtua siswa juga memiliki pola pemikiran yang demikian pula.

Dalam posisi seperti ini, yang patut dikhawatirkan adalah diri siswa. Siswa yang memiliki minat bergabung di teater sekolah adalah penderita yang serba salah. Minat dirinya untuk mengekspresikan diri dalam teater sekolah beradu dengan suatu sistem pendidikan (sekolah dan orangtua) yang berlaku, sehingga menciptakan kebimbangan dan kegamangan psikologis dalam dirinya yang masih hijau. Kekhawatiran seperti ini cukup beralasan karena masalah tumbuh kembang siswa (baca: generasi muda) sangat tergantung pada kemantapannya dalam memilih serta menapaki pilihan-pilihan jalan kehidupan. Di samping itu, kita tahu bahwa siswa adalah golongan remaja yang notabene memiliki kemauan kuat untuk terus mencari pengalaman seluas-luasnya dalam banyak bidang. Jika mereka dihadapkan dengan sistem pendidikan yang seperti itu, maka tumbuh kembangnya akan menjadi timpang. Sebab hanya otak kiri mereka saja yang dicekoki dengan dalil-dalil eksak. Jika ini terus berjalan, maka bersiaplah menyambut generasi muda kita yang selalu “jalan miring” akibat kekosongan otak kanannya.

Teater Sekolah sebagai Obat
Apa yang mendorong siswa ikut dalam kegiatan teater sekolah? Dalam bincang-bincang saya dengan beberapa siswa yang mengikuti Workshop Teater Remaja DIY-Jateng, yang diselenggarakan oleh HMJ Teater ISI Yogyakarta, akhir Februari lalu, banyak sekali alasan yang terungkap. Ada yang memang ingin paham lebih jauh tentang ilmu teater, ingin menyalurkan minat dan bakat, sebagai pengisi waktu luang, ingin jadi bintang film, mencari lebih banyak teman, hingga yang hanya untuk alasan agar bisa keluar rumah.

Alasan-alasan tersebut sebenarnya tidaklah terlalu menjadi persoalan – bahkan seorang Rendra pun dulu masuk teater hanya untuk mencari cewek. Yang lebih penting adalah bagaimana dalam kegiatan teater sekolah itu siswa-siswa dapat belajar tentang banyak hal, misalnya seperti yang diungkapkan Ags Arya Dipayana tentang pembelajaran kerja yang konsisten dan sistematis dalam kerangka kolektivitas. Kerangka kerja dalam kolektivitas ini juga akan merangsang pola pikir siswa agar bersikap akomodatif. Di samping itu, dari segi psikologis, siswa yang mampu mengekspresikan emosinya dalam proses teater akan terbantu proses kerja intelektualnya. Ini semacam terapi psikologis yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan tumbuh kembang otak kiri dan kanan.

Selain itu, manfaatnya dapat pula kita lihat dari kenyataan bahwa teater bukan hanya masalah pikir. Tapi juga rasa. Dari segi keaktoran misalnya, ketika seorang siswa yang mendapatkan suatu peran tertentu, ia pun harus berusaha memahami serta merasakan pola pikir, psikologis, bahkan sosiokultural peran yang hendak dimainkannya. Di sini siswa akan mempelajari bagaimana “menjadi” orang lain. Dengan ini, dalam realitas kehidupan, siswa akan mampu untuk lebih bijak – dengan sikap yang penuh permakluman – kepada orang lain. Sesuatu yang sangat jarang bisa ditemukan dalam kerangka pola pikir eksak.

Nah, dapatlah kira-kira diraba proses pembelajaran macam apa yang akan diberikan dunia teater, terutama teater sekolah, kepada siswa. Namun demikian, masalah tidak akan tuntas sampai di sini jika sistem pendidikan yang diberikan sekolah dan orangtua siswa masih berorientasi pada bidang eksak. Perlu kesadaran tentang kualitas tumbuh kembang generasi muda dalam hal ini.

Kesadaran dan Kepedulian Siapa?
Marilah ambil kemungkinan celah terkecil untuk mengatasi hal ini. Jika pihak pemerintah – yang notabene punya wewenang mengatur sistem pendidikan – belum menunjukkan perhatian yang serius dalam masalah ini, tidak berlebihan kiranya untuk menuntut secuil kesadaran. Kesadaran dari penyelenggara negara tentang bagaimana sebaiknya tumbuh kembang generasi muda diarahkan. Dari timbulnya kesadaran semacam ini diharapkan selanjutnya muncul semacam kepedulian.

Ketika tanda-tanda kepedulian pemerintah sudah nampak, kesadaran dan kepedulian – tentunya juga tanggung jawab – kitalah, para insan teater, yang selanjutnya harus bergerak – atau lebih digerakkan lagi, jika sebelumnya memang sudah bergerak. Fenomena masuknya para insan perteateran kita ke beberapa sekolah untuk mengadakan pembinaan, sebenarnya sudah menjadi awal yang baik. Demikian pula dengan diadakannya berbagai macam workshop dan festival/lomba teater bagi sekolah-sekolah. Insan perteateran kita diharapkan tidak hanya sibuk mengurus diri sendiri atau mengurus “teater yang sudah mapan”. Melihat fenomena teater sekolah, insan perteateran kita seharusnya punya kesadaran dan kepedualian untuk turun gunung, guna membagi hasil pertapaannya dengan generasi muda.

Demikian pula halnya dalam menyikapi kurangnya naskah teater “standar” untuk para siswa. Selama ini, naskah yang dimainkan oleh para siswa cenderung hanya itu-itu saja. Sebutlah misalnya, Pinangan, Malam Jahanam, Titik-titik Hitam, Kisah Cinta dan Lain-lain, Lawan Catur, dan secuil lagi lainnya, yang notabene adalah naskah-naskah dari sekian darawarsa yang lalu. Sangat jarang ditemukan naskah-naskah baru yang bisa dikatakan “standar” untuk siswa.

Masalah-masalah seperti inilah yang semestinya mendapat perhatian serta kepedulian dari para insan perteateran kita. Biarlah jika misalnya pihak lain – termasuk pemerintah – tidak punya kepedulian.

baca lengkapnya ...

03 Oktober 2008

Rare Angon Sabitan

Ini adalah beberapa foto pementasan Rare Angon Sabitan, sebuah interpretasi dari tiga jenis folklor tentang Rare Angon dari Bali, yaitu kepercayaan dan upacara terhadap Sang Hyang Rare Angon, mite Rare Angon dan Dewa Siwa serta dongeng Rare Angon dan Lubangkuri. Pentas di Auditorium Teater ISI Yogyakarta, 25 Juni 2008, ini sekaligus merupakan karya tugas akhir penyutradaraan saya di Jurusan Teater, FSP, ISI Yogyakarta, sebuah institusi formal di mana saya tercatat sebagai mahasiswa sejak tahun 2003 dengan nama Ida Bagus Eka Darmadi. Semoga bisa dinikmati sebagai suatu teater foto.







salam,
Ibed Surgana Yuga

baca lengkapnya ...

11 September 2008

Memoir Sang Jenderal

(Transformasi Cerpen “Darah Itu Merah, Jenderal” Seno Gumira Ajidarma)

Transformasi Oleh: Ibed Surgana Yuga

Hanya suara-suara tembakan, ledakan, teriak kemenangan, hardikan, yel-yel tentara, deru pesawat tempur, komando, rintih kesakitan, derap sepatu tentara, desing peluru, erangan tertahan menjelang ajal, deru mobil, tank dan sebagainya.

Lalu di sela-selanya ada sebuah percakapan tentang kemenangan.

Suara I:
Jenderal! Jenderal! Presiden musuh sudah tertawan!

Suara II:
Siapa?


Suara I:
Ribalta!

Suara I:
Orang seperti ini presiden? Hahahaha!

Suara II:
Hahahaha!

Semuanya:
Hahahaha! Hahahaha! Hahahaha ....

Tawa itu begitu lama sehingga lambat-laun kedengaran aneh dan mengerikan.

Sepanjang tawa itu, tersaji tayangan gambar beberapa orang berseragam tentara berpose bersama mayat seorang tawanan yang dipasangi topi, dan pada mulutnya dipasangi rokok, layaknya foto para pemburu berpose bersama macan hasil buruan.

Menyusul gambar berbagai macam pembangunan fisik: pengaspalan jalan, pembuatan jembatan, bendungan, patung-patung pahlawan, jalan layang, gedung-gedung pencakar langit, dan sebagainya.

Lagu-lagu kebangsaan mengiringi.

Gambar-gambar melaju cepat, menimpa tubuh tegap seorang lelaki yang setengah berbaring di kursi malas yang panjang. Lelaki memakai piyama dan berkacamata hitam itu adalah Sang Jenderal yang tengah menikmati masa pensiunnya, masa santainya.

Di sekelilingnya, tembok-tembok nan tinggi dilengkapi kawat berduri dan tempelan pecahan kaca di ujung atasnya. Hanya ada sebuah celah kecil untuk jalan masuk. Sebuah celah yang hanya cukup untuk tubuh satu orang dalam posisi membungkuk. Di luar celah sesekali terlihat beberapa tentara dari berbagai satuan, dengan senjata di tangan, mondar-mandir melakukan penjagaan.

Beberapa saat, datang seorang tentara membawa sebatang cerutu untuk Sang Jenderal. Setelah menyalakannya untuk Sang Jenderal, orang itu memberi hormat militer, lalu pergi.

Seiring Sang Jenderal menikmati cerutunya, seiring lagu-lagu kebangsaan yang terus mengalun, terdengar suara sebuah rekaman wawancara seorang wartawan dengan Sang Jenderal:

Sang Jenderal:
Hidup adalah perjuangan. Dan perjuangan seorang prajurit sejati seperti saya, adalah perjuangan antara hidup dan mati.

Wartawan:
Banyak anak buah Anda yang kini jadi pejabat, sedangkan Anda tidak. Ada perasaan kesal?

Sang Jenderal:
Kenapa harus kesal? Namanya dunia kan memang begitu. Masa’ saya harus iri?

Wartawan:
Anak-anak Anda berbisnis?

Sang Jenderal:
Tak ada yang jadi tentara. Semua kerja di swasta. Yah, pengusaha kecil-kecilan. Pensiunan kan sudah tak bisa memberi fasilitas.

Wartawan:
Mengapa tidak memakai fasilitas anak buah Anda yang kini jadi pejabat?

Sang Jenderal:
Ah, malu. Iya kalau dikasih. Kalau tidak? Kan malu-maluin. Walau hal seperti itu sudah lumrah di sini, tapi tidak saya lakukan.

Ya, ada juga yang membantu, satu dua orang. Tapi kan terbatas juga. Namanya juga manusia. Sering ada yang lupa. Padahal dulu mereka ngemis-ngemis ikut saya. Setelah jadi orang, hanya memikirkan grupnya sendiri saja.

Ya, macam itulah.

Seorang tentara yang lain, dengan seragam dari satuan yang berbeda, datang mengahadap, menyajikkan segelas minuman untuk Sang Jenderal. Orang itu juga menghormat ala militer sebelum pergi.

Wartawan:
Waktu masih menjabat banyak sabetannya dong?

Sang Jenderal:
Bukan sabetan! Itu namanya take and give. Jangan katakan itu tempat “basah”. Kalau saya menentukan persentase, itu baru basah namanya. Dan saya salah. Kalau dikasih, ya terserah. Itu rezeki namanya. Kalau tidak, ya sudah.

Demi Tuhan saya bersumpah, saya tidak pernah dan tidak akan memeras orang. Tapi kalau dikasih stick golf, ya saya terima. Terus terang saja. Ya, masa’ kalau jadi pejabat tidak dapat hal yang begitu.

Jujur saja. Pejabat kan kayanya dari situ. Gaji kecil, tapi tip-nya yang gede.

Wartawan:
Tip Anda banyak ketika itu?

Sang Jenderal:
Lho, jujur saja memang begitu. Sekarang saya punya rumah, punya mobil, itu semua dikasih. Saya tidak malu. Ada orang datang sambil bilang, “Pak ini mobil, terima kasih saya dikasih proyek.” Ya, saya terima saja. Tidak usah malu.

Segala sajian gambar dan suara berhenti.

Beberapa orang tentara, dari berbagai satuan, datang menggotong kursi dan meja makan. Yang lain datang membawa beberapa porsi makanan dan minuman untuk makan siang Sang Jenderal.

Setelah selesai segala persiapan, para tentara memberi hormat dan berlalu.

Sang Jenderal membuka kacamata hitamnya, lalu makan dengan lahapnya.

Sang Jenderal:
(Setelah makan beberapa suap) Lama-lama hidup santai seperti ini bosan juga. Tak ada gejolak apa-apa. Belakangan saya menjadi terlalu cepat marah karena kurang pekerjaan. Tepatnya, tidak pernah lagi bertempur. Tak ada konflik yang bisa diselesaikan dengan dor-doran senjata.

Ah, betapa sepinya hidup tanpa pertempuran. Hidup terasa hambar. Tak ada yang bisa dikecap sedikit pun.

Terus terang saja, saya memang tidak bisa hidup dalam ketenangan seperti ini. Yah, memang begitulah saya. Saya hanya merasa hidup ketika ada dalam ketegangan. Hanya dalam bahaya saya merasa tenang. Kepuasan hidup hanya bisa dicapai ketika mengalahkan musuh. Dan sejarah memang memberikan saya peran sebagai pihak yang menang.

Sang Jenderal terus makan. Kelihatan lahap.

Tapi pada suatu saat, ia merasa apa yang dimakannya tak memberi rasa apa-apa. Hambar. Membosankan.

Sang Jenderal jadi gelisah.

Sang Jenderal:
(Berteriak, lebih pada dirinya sendiri) Heeeii! Sekali-sekali bikin perang dong! Biar seru!

(Tertawa geli) Saya sudah terlanjur kecanduan situasi krisis rupanya.

Sang Jenderal makan lagi, sambil sesekali mengeluarkan kembali tawa gelinya.

Datang seorang tentara membawa pesawat TV, lalu diletakkannya di atas meja. Sambil mengunyah makanan, Sang Jenderal masih sempat memencet tombol remote control.

Menyalalah TV di depannya.

Dan berubahlah ruang itu menjadi sebuah studio TV, dengan acara sebuah talkshow antara Sang Jenderal dengan seorang presenter.

Presenter:
Kita semua sudah tahu, bahwa Bapak adalah seorang jenderal yang dikenal begitu gigih berjuang di medan pertempuran. Bisa ceritakan bagaimana Bapak mengawali karier kemiliteran Bapak?

Sang Jenderal:
Ketika saya berumur belasan tahun, saya sudah ikut bertempur dalam perang kemerdekaan. Barangkali karena saya dinilai serius dan berjasa dalam perang tersebut, lalu saya direkrut menjadi tentara.

Presenter:
Momen apa yang paling mengesankan ketika Bapak berperang menghadapi musuh?

Sang Jenderal:
Waahhh, banyak! Banyak sekali. Tidak bisa dihitung. Bahkan saya sendiri tak bisa mengingat semuanya.

Presenter:
Salah satunya?

Sang Jenderal:
Mmm .... O ya .... Tapi ini hanya salah satunya lho ya ....

Pernah dalam suatu operasi penumpasan, pasukan saya dihajar bazooka musuh. Kepala saya kena pecahan peluru. Hampir mati saya waktu itu, tapi tidak jadi. (Tertawa geli) Setahun lamanya saya dirawat. Rasanya bosan sekali.

Tapi lihat bekas luka di pelipis saya ini. Ia bersinar-sinar bagaikan bintang tanda jasa. Jangan salah. Tidak semua orang bisa menjadikan luka sebagai kebanggaan. Saya sendiri sangat bangga dengan luka-luka yang saya dapat dari medan pertempuran.

Dan untuk mencatat semua kisah perjuangan saya, sekarang saya sedang menyiapkan sebuah buku memoir.

Presenter:
Oh? Kapan kira-kira buku itu terbitkan?

Sang Jenderal:
Rahasia. Tunggu saja tanggal mainnya.

Presenter:
Baik. Kita harapkan buku itu nantinya bisa menjadi semacam acuan bagi para generasi muda.

Sang Jenderal:
Iya.

Presenter:
Mmm, Bapak juga dikenal sebagai penembak yang jitu ...

Sang Jenderal:
(Langsung menyergah) Oo, iya! Menembak tepat dari jarak 50 meter bukan masalah bagi saya. Saya pernah masuk koran karena menembak kaki maling. (Tertawa) Ada-ada saja wartawan itu. Baru nembak kaki maling saja sudah masuk koran. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau mereka menyaksikan saya bertempur, menembak musuh satu demi satu hingga terkapar bersimbah darah dan tak bernyawa, waaahh, bisa-bisa wartawan-wartawan itu malah pingsan duluan. (Tertawa lagi.)

Tawa yang lama-kelamaan kedengaran aneh itu membawa kembali Sang Jenderal ke rumahnya.

Ia tengah menyelesaikan suapan terakhirnya.
Tentara-tentara tadi datang mengangkut meja, kursi, serta peralatan makan Sang Jenderal.

Sang Jenderal menyempatkan matanya melirik TV yang masih menyala.

Di layar TV, Sang Jenderal menyaksikan berita tentang sengketa sebuah daerah.

Sang Jenderal:
Sial! Berita itu saja! Apa tidak ada masalah lain yang bisa diberitakan?! Pembangunan sedang marak, ini kok malah lain-lain. Ada-ada saja!

Dengan kesal, dipindahnya channel siaran.

Lalu tersaji gambar unjuk rasa para mahasiswa.

Sang Jenderal kembali memaki. Dipilihnya lagi channel yang lain.

TV menyajikan dialog para politikus tentang keadaan negara yang kian krisis, korupsi, kenaikan harga dan bla bla bla ....

Dimatikannya TV. Napasnya tersengal. Bibirnya tak kuat lagi mengeluarkan caci-maki. Diraihnya gelas minuman di sampingnya, lalu minum secukupnya.

Sang Jenderal berusaha menenangkan diri.

Seorang tentara datang membawakan cerutu dan koran Herald Tribune.

Setelah menyalakan cerutu untuk Sang Jenderal, tentara itu pergi.

Sang Jenderal menikmati cerutu, lalu iseng membaca salah satu berita di koran seperti memamah sepotong keju.

Sejenak, Sang Jenderal masih membaca koran.

Namun tiba-tiba, darahnya mendidih. Napasnya memburu.

Sang Jenderal:
(Dibantingnya koran. Muak. Sengit) Huuaahhh! Berita itu lagi! Berita itu lagi! Apa yang mereka ketahui tentang risiko kehilangan nyawa?! Apa yang mereka ketahui tentang bagaimana rasanya dikepung musuh di medan tak dikenal dan dibantai tanpa kenal ampun?!

Sialan!

Daerah itu kita rebut dengan mengorbankan beribu-ribu nyawa, apa sekarang kita harus menyerahkannya kembali? Dasar wartawan tidak punya kerjaan! Seberapa besar sih jasa mereka dibandingkan dengan menghadapi peluru berdesing-desing, bom yang menggelegar, bazooka, dinamit, mortir, granat ....

Mereka semua mengesalkan. Semua wartawan itu. Juga para diplomat, politisi .... Apalagi mahasiswa. Sok gagah semua!

Mereka tahu apa? Bisanya cuma ngomong doang! Tahu apa mereka tentang keluarga tentara yang ditinggal mati, tentang menjadi cacat tanpa kaki dan tanpa tangan, tentang perjuangan tanpa pamrih yang dilecehkan sebagai penindasan? Ini penghinaan! Wilayah itu kita istimewakan, kita bangun lebih cepat dari wilayah-wilayah lain, kok malah dibilang menjajah! Kok dibilang mau memusnahkan bangsa! Apa-apaan?

Sang Jenderal bangkit. Dengan sigap tangannya meraih sepucuk pistol di saku piyamanya, lalu dengan terburu, seperti seorang prajurit yang dibangunkan mendadak tengah malam, ia menanggalkan piyamanya. Yang tinggal hanya celana dalam yang membungkus daerah fitalnya. Lalu dengan sigap pula, ia meraih sebuah penutup kepala kemiliteran bertanda bintang lima, kemudian mengenakannya.

Tubuh tegap Sang Jenderal berdiri di atas kursi dengan sikap sempurna seorang tentara. Tangan kokohnya mengarahkan pistol ke udara, dan ... dorrr!!

Seketika setelah suara tembakan itu, tertayang gambar-gambar peperangan yang disusul suara tembakan, ledakan, teriak kemenangan, hardikan, yel-yel tentara, deru pesawat tempur, komando, rintih kesakitan, derap sepatu tentara, desing peluru, erangan tertahan menjelang ajal, deru mobil, tank, dan sebagainya.

Semua melaju begitu cepatnya.

Bersamaan dengan itu pula, beberapa orang tentara dari berbagai satuan, lengkap dengan senjata masing-masing, datang dan langsung berbaris rapi di hadapan Sang Jenderal.

Para Tentara:
Siap, Jenderal!!

Sang Jenderal:
(Layaknya seorang komandan yang memberi arahan pada para prajuritnya) Sebagai tentara, kehidupan kita hanyalah untuk berjuang, berjuang, dan berjuang. Tak ada yang lain. Kita harus bangga. Ini adalah tugas mulia yang kita emban. Tidak ada pekerjaan yang lebih mulia selain menjadi tentara. Tentara itu mulia karena dengan menjadi tentara seseorang telah menyerahkan nyawanya. Untuk tanahair kita tercinta.

Menjadi tentara lebih dari sekedar sebuah profesi. Kita sangat jauh lebih berharga dibandingkan dengan profesi lainnya. Apalagi dibandingkan dengan wartawan, diplomat, politisi, dan mahasiswa, yang sok gagah itu. Jasa mereka tak ada apa-apanya dibandingkan kita yang berjuang menghadapi senapan, bom, bazooka, dinamit, mortir, granat ....

Sekarang lihatlah! Musuh sudah ada di depan kita. Mereka siap menyerang kita setiap saat. Meluluhlantakkan kita kapan pun mereka mau. Maka, sekarang bersiaplah! Bersiaplah mengorbankan jiwa dan raga untuk nusa dan bangsa.

Tapi ingat, musuh yang sekarang ini bukan hanya bala tentara musuh yang selalu bersenjata. Mereka tak selalu bersenjata. Tak selalu seperti orang yang sedang memberontak. Musuh kita adalah juga para wartawan, diplomat, politisi, mahasiswa, yang hanya bisa mengeritik saja. Mereka sama berbahayanya.

Kalian ingat? Dulu daerah itu kita rebut dengan mengorbankan beribu-ribu nyawa. Sekarang mereka malah seenaknya ingin menyerahkannya kembali. Ini penghinaan besar-besaran terhadap reputasi kita sebagai tentara. Sebagai abdi negara dan abdi masyarakat.

Jadi, tunggu apa lagi! Kita harus sikat mereka! Ganyang semuanya!

Kerjakan!!

Para Tentara:
Siap, Jenderal!!

Tentara-tentara itu bergerak dengan gesitnya. Mereka siaga, memasang posisi siap menggempur sebuah arah. Ada yang tiarap, ada yang bersembunyi, ada yang mengintai dengan teropong, dan sebagainya.

Sang Jenderal segera turun dari kursi, lalu ikut tiarap di belakang para tentara. Ia juga bersiaga dengan pistolnya.

Sementara gambar-gambar peperangan terus melaju kian cepat. Suara-suara kian riuh.

Ketika sebuah ledakan keras terdengar dari luar, dengan cepat Sang Jenderal memberi komando.

Sang Jenderal:
Seraaaangng ...!!

Para tentara maju ke sebuah arah. Mereka menembakkan senapan-senapan mereka.

Terciptalah suasana perang yang riuh dan mencekam.

Ketika semua tentara lenyap dari hadapannya, Sang Jenderal bangkit perlahan.

Lalu tertawa terbahak-bahak.

Perlahan, suara tembakan, gambar-gambar dan suara-suara peperangan itu lenyap, ditelan tawa Sang Jenderal yang begitu panjang, yang lama-kelamaan kedengaran begitu aneh.

Masih menyisakan tawa, Sang Jenderal kembali ke kursi malasnya. Memakai kembali piyama serta kacamata hitamnya, menyimpan lagi pistol ke saku piyamanya, lalu menanggalkan penutup kepala kemiliterannya.

Kehausan, ia teguk sisa minuman di gelasnya hingga tandas.

Sang Jenderal:
Perlu diberi penegasan bahwanya seorang prajurit itu diuji di lapangan. Bukan di belakang meja. Bukan pula di depan layar komputer. Bukan dengan corat-coret di atas kertas. Bukan pula dengan banyak omong. Yang penting bagi prajurit adalah sejauh mana ia berani mengeluarkan timah panas dari senapannya. Seberapa garang ia di medan tempur.

Hidup saya sendiri memang habis di medan tempur. Sejak umur belasan tahun saya sudah ikut bertempur dalam perang kemerdekaan. Sebelum akhirnya saya direkrut menjadi tentara. Setiap kali ada pemberontakan, saya selalu diterjunkan untuk memadamkannya. Saya hampir selalu dikirim, karena setiap tugas yang dibebankan pada saya selalu beres seberes-beresnya.

Itulah saya!

Lalu terdiam. Lama. Tak jelas apa yang berkecamuk dalam kepalanya.
Akhirnya kentara juga kegelisahannya. Sang Jenderal seperti kikuk dengan posisi tubuhnya.

Berulang kali ia benahi posisi tubuhnya.

Tapi tak juga mendapat kenyamanan.

Sang Jenderal:
(Berteriak, entah ditujukan kepada siapa) Heeeii! Ayo dong bikin perang! Hidup kok adem-ayem kayak gini! Garang sekali-sekali kenapa sih?! Begini nih .... (tangannya merogoh saku piyama, mengeluarkan pistol, lalu menembakkannya beberapa kali ke sembarang arah.)

Nah, kan seru kedengarannya!

Lama-lama ia bosan juga.

Sang Jenderal:
Ah, nggak ada musuh jadi nggak seru juga ....

Kembali kekikukan itu menyerangnya. Tangannya bergerak ke arah-arah yang tak tentu, mencari sesuatu – entah apa – yang bisa menghilangkan gelisahnya.

Diambilnya gelas. Kosong.

Penutup kepala kemiliteran dengan lima bintang bertengger. Itu pun dirasanya hambar.

Pistol. Tak ada musuh. Buang peluru percuma.

Koran yang sempat dibantingnya. Ah, berita yang menyakitkan saja isinya.

Ia ingat sesuatu. Dirogohnya saku piyama yang satu lagi. Sebuah telepon genggam di sana.

Sang Jenderal memencet beberapa nomor.

Sang Jenderal:
Halo? – Heee, tidak usah tanya kabar. Aku tetap begini-begini saja. Sama seperti kau. Hahaha .... – Eh, kau punya musuh nggak? – Iya, musuh! – Yaa, barangkali bisa aku tembak. Gatal tanganku. – Hahaha ...! – Ngomong-ngomong, bagaimana tulisan memoirmu? Sudah berapa halaman? – Baru seratus halaman?! – Aku sudah lima ratus halaman lebih. – Oke, kontak aku kalau kau sudah melewati lima ratus halaman. Nanti kita terbitkan bersama, kita launching bersama. Oke? – Oke ....

Memencet lagi nomor yang lain.

Sang Jenderal:
Halo! – Hahahaha ...! Baru berapa halaman? – Enam ratus?! – Aku sudah seribu halaman lebih. – Ah, tidak masalah. Yang penting kita tumpahkan semua di buku memoir itu. Biar mereka tahu, bagaimana gagahnya kita, bagaimana kita mati-matian, di medan tempur. – Oke ....

Memencet nomor lagi.

Sang Jenderal:
Sial! (Menutup teleponnya) Sombong sekali! Pensiunan kok sibuk!

Nomor yang lain lagi.

Sang Jenderal:
Aaaahhhh ...! (Menutup teleponnya) Apa saja sih kerjaan mereka?! Sok sibuk semua!

Dimasukkannya kembali telepon genggam ke saku.

Gelisah itu datang lagi.

Digerakkannya tangan ke arah-arah yang tak tentu, mencari sesuatu – entah apa – yang bisa menghilangkan gelisahnya.

Diambilnya gelas. Kosong melompong.

Penutup kepala kemiliteran dengan lima bintang bertengger. Ah, hambar.

Pistol. Ah, lagi-lagi tak ada musuh. Buang peluru percuma.

Koran yang sempat dibantingnya. Ah, seperti kertas kosong saja.

Akhirnya tangannya jatuh pada remote control. Dinyalakannya TV.

Film perang!

Sang Jenderal:
Naaahhhh ...! Ini dia!

Begitu gembiranya ia melihat film perang di TV.

Pistolnya dirogoh. Ditanggalkannya piyama. Dikenakannya penutup kepala berbintang lima.

Ikut beraksi, seakan ia ada dalam kisah perang di TV.

Beberapa kali dikeluarkannya timah panas.

Kegembiraan yang meluap! Sang Jenderal seperti menemukan medan tempurnya yang telah lama hilang.

Lalu, barangkali dari dalam imajinasi Sang Jenderal, suara-suara perang bermunculan. Tembakan, ledakan, teriak kemenangan, hardikan, yel-yel tentara, deru pesawat tempur, komando, rintih kesakitan, derap sepatu tentara, desing peluru, erangan tertahan menjelang ajal, deru mobil, tank, dan sebagainya.

Kemudian gambar-gambar peperangan itu muncul lagi.

Sang jenderal tertawa dengan puasnya. Dar-der-dor tumpah dari pistol di tangannya.

Kini tubuhnya menari-nari, ditimpa gambar-gambar peperangan yang melaju kian cepat.

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.

Sang Jenderal kian garang, kian terlena dengan hura-huranya. Tubuh basahnya kian liar.

Seiring hujan yang kian menderas, gambar-gambar peperangan berubah menjadi warna merah semata. Kian lama, kian merah. Merah darah.

Sang Jenderal terus menari.

Sang Jenderal:
(Berteriak) Darah itu merah, Jenderal!!

Semuanya berjalan dalam waktu yang lumayan lama.

Hingga pada satu saat, segala gambar dan suara memudar.

Tinggal merah pudar. Serta rintik hujan.

Dan Sang Jenderal yang terkapar kecapaian.

Sang Jenderal:
(Dalam napas tersengal) Memang ... sudah waktunya ... aku pensiun ...

Lalu hanya suara rintik hujan ....

Jogja, Oktober 2005

baca lengkapnya ...

02 September 2008

Teater Realisme Indonesia: Ah, yang Benar?

Oleh: Ibed Surgana Yuga

Menurut Indra Tranggono (Kompas, Minggu, 19/11/06), Rendra dan kawan-kawan yang memiliki pilihan estetik teater tersendiri, memberi pengaruh yang luar biasa bagi kehidupan teater modern di Indonesia hingga kini, sehingga kemudian teater realisme menjadi (pilihan) minoritas. Selain itu, Indra juga menambahkan faktor lain penyebab minoritas itu – yang sebenarnya merupakan turunan dari faktor pertama tadi – yaitu apa yang disebutnya dengan "‘matinya’ tokoh psikologis dalam lakon realis (dalam lakon teater Rendra dan kawan-kawan, sebagaimana yang dicontohkannya? – pen.)", dan munculnya "tokoh sebagai penyosokan pikiran/ide".

Apa yang ditulis Indra itu, ada benarnya. Masalah seperti ini, serta masalah lain yang melingkupi tumbuh-kembang teater realisme di Indonesia, juga pernah diforumkan dalam Panggung Teater Realis Indonesia, pada November 2004 di Jakarta. Dan, bukankah jagat teater modern sendiri di Indonesia juga merupakan minoritas?


Menurut saya, minoritasnya – pun ketiadaan sama sekali – teater realisme di Indonesia disebabkan oleh faktor-faktor yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan apa yang diutarakan Indra. Bukan sekadar Rendra dan kawan-kawan saja yang menebarkan pengaruhnya dalam masalah ini, namun lebih luas lagi adalah manusia Indonesia sendiri.

Ketika masyarakat teater modern Indonesia terbentuk, katakanlah ketika mulai berkembangnya teater realisme, ia dibangun dengan "material-material" yang adalah manusia-manusia Indonesia sendiri – dengan pengaruh atau bekal keilmuan teater modern Barat. Jauh sebelum itu, manusia-manusia Indonesia yang membentuk masyarakat teater modern Indonesia itu telah memiliki konstruk karakter batin tersendiri yang dibangun oleh sejarah panjang sosial-budaya masing-masing. Karakter manusia-manusia Indonesia inilah yang kemudian memberi sumbangan besar (bahkan mungkin utama) dalam pembentukan estetika teater modern Indonesia.

Pentas Tanpa "Isme"
Mari mulai dari masalah teater realisme. Sebagaimana diketahui, teater realisme merupakan anak kandung modernisme di Barat. Ia merupakan bagian dari gerakan besar dalam sejarah seni di Barat yang mendobrak romantisme, serta sejalan dengan industrialisasi, individualisme, serta pengagungan pada logika. Teater realisme, dengan latar belakang paham serta semangat modernisme, mensyaratkan bentuk yang, kalau boleh saya istilahkan di sini, "sesuai aslinya". Yang saya maksud dengan "asli" adalah hidup keseharian yang nyata, logis, wajar dan tidak distilisasi, sehingga melahirkan pentas-pentas teater yang sering diistilahkan dengan illusion of reality atau juga a slice of life.

Bakdi Soemanto (2001) mencatat bahwa teater realisme di Indonesia mencapai titik kulminasi ketika di Yogyakarta berdiri Asdrafi dan ATNI di Jakarta. Di kedua institusi akademik itulah teater (realisme) dipelajari secara keilmuan. Teater realisme di Indonesia kemudian berkembang dengan sumber keilmuan realisme Barat, serta didukung oleh naskah-naskah terjemahan. Dengan demikian ia merupakan "pemindahan" realisme Barat ke Indonesia. Walaupun naskah-naskah luar telah diadaptasi atau disadur, namun sering kali ditemui masalah bahwa banyak hal spesifik dalam lakon – karakter atau jenis laku tokoh, misalnya – yang sebenarnya tidak sesuai dengan karakter ruang-waktu Indonesia.

Pentas-pentas teater realisme di Indonesia barangkali memang mengalami perkembangan yang pesat pada masa itu, apalagi didukung dengan penguasaan keilmuan – termasuk konvensi – yang matang. Namun saya kira, pentas-pentas itu cenderung berhasil pada tataran estetika atau konvensi teater realisme semata. Ia tentu saja tidak disokong oleh paham, semangat, atau "isme" yang melatarbelakangi terbentuknya teater realisme di Barat. Tidak ada sejarah di belakangnya yang berisi pergulatan dalam mendobrak romantisme, bergeraknya masyarakat ke industrialisasi, bangkitnya individualisme, logika yang dijadikan tolak ukur kebenaran, dan sebagainya.

Pendobrakan terhadap romantisme, sebagai salah satu pemicu munculnya teater realisme di Barat, diwujudkan dalam bentuk pentas yang tidak lagi menghadirkan kerajaan; namun pada seting yang lebih dekat, seperti dapur, kamar tidur, ruang tamu, dan sebagainya, yang merupakan representasi keseharian yang nyata dan kekinian (kekinian pada masa itu). Ia bukanlah masa lalu yang telah lewat atau masa depan yang masih terimajinasikan. Lalu, seiring bergeraknya zaman, maka "kekinian" pun bergerak. Secara ekstrem dapat dikatakan bahwa "kekinian" yang kemarin tidak lagi menjadi "kekinian" di hari ini, sehingga naskah-naskah teater realisme yang baru pun mesti ditulis untuk merepresentasikan "kekinian" itu. Lakon-lakon mesti up to date.

Di Indonesia sendiri, adakah naskah-naskah yang demikian? Barangkali ada. Namun kecenderungan yang terjadi selama ini, pentas yang disebut teater realisme di Indonesia merupakan pentas realisme "masa lalu" karena memainkan naskah-naskah yang lebih banyak lahir pada kurun 1960-an. Di samping itu ada pula pentas realisme "masa lalu orang lain" karena mementaskan naskah-naskah asing yang "kadaluarsa". Kasus yang kedua, selain tidak merepresentasikan "kekinian", ia juga merepresentasikan kenyataan yang jauh dari ruang geografis di mana ia dipentaskan, ia merepresentasikan sebuah negeri asing. Barangkali inilah yang menjadi alasan kenapa seorang Tenesse William konon tidak merekomendasikan naskah-naskahnya untuk dipentaskan di luar wilayahnya.

Batin Tradisi
Dalam makalah untuk forum Panggung Teater Realis Indoesia (2004), Putu Wijaya menyinggung tentang sebuah kenyataan yang sering terlupakan, bahwa sesungguhnya dalam teater tradisi yang tidak realis, masyarakat (Indonesia) merasakan realitas jati diri mereka. Saya contohkan epos Mahabharata dan Ramayana di Bali misalnya, yang tak habis-habisnya dieksplor sebagai lakon dalam berbagai bentuk teater tradisi. Selain menjadi salah satu bentuk kitab suci, kedua epos itu juga terejawantah dalam bentuk awig-awig (semacam undang-undang) desa adat yang menjadi landasan laku budaya manusia Bali. Dengan demikian, kedua epos tersebut memberi karakter (batin) terhadap keseharian, realita, kehidupan manusia Bali.

Di Indonesia, kita mengenal etnis-etnis yang memiliki psikologi yang berbeda satu sama lain. Psikologi manusia Jawa yang salah satunya dibentuk oleh budaya kraton yang konon halus itu, menggunakan cara yang sangat spesifik untuk mengekspresikan keadaan emosi tertentu, yang berbeda dengan yang dilakukan manusia Batak misalnya. Maka, jika teater realisme Indonesia terbentuk, dengan menggunakan psikologi sebagai panglimanya, ia akan mengandung karakter (psikologis) yang berbeda di masing-masing etnis. Hal semacam inilah yang punya andil besar dalam pembentukan karakter teater tradisi di Indoensia.

Karakter tradisi seperti itu, yang dimiliki sebagian besar manusia Indonesia yang berkecimpung dalam dunia teater modern, ternyata mengendap dan mengkristal, menjadi semacam kondisi bawah sadar, yang dapat kambuh dengan hebatnya pada satu waktu. Walaupun mereka itu telah menguasai ilmu teater realisme Barat sampai tingkat tertentu, namun kambuhnya kondisi itu kemudian ambil bagian yang sangat besar dalam menyusun konstruk pentas teater yang mereka kreasi, menciptakan estetikanya sendiri.

Lihatlah misalnya (seturut dengan contoh yang dipaparkan Putu Wijaya) Teater Populer yang kemudian mementaskan Jayaprana, Macbeth, dan sebagainya; serta Wahyu Sihombing yang dikenal gigih mengembangkan realisme di IKJ, tiba-tiba mementaskan Waiting for Godot. Atau, lihat yang terjadi dengan Nano Riantiarno, yang notabene adalah salah satu pentolan Teater Populer (baca: puncak teater realisme di Indonesia – menurut Putu Wijaya), kemudian memilih estetika teaternya sendiri sebagaimana yang kita saksikan pada Teater Koma kini. Apa yang mendasari pergeseran itu terjadi? Apakah menurut Nano teater realisme tidak cukup baginya untuk mengekspresikan berbagai kegelisahan? Atau pergeseran itu dipandang sebagai suatu peralihan ke level yang lebih tinggi dalam suatu pencapaian tingkat estetik berteater – karena ada anggapan bahwa realisme merupakan basic bagi para pelaku teater?

Sampai saat ini saya sendiri tetap beranggapan bahwa pergeseran itu terjadi karena kambuhnya bawah sadar sebagaimana yang diutarakan di atas. Atau paling tidak, bawah sadar atau karakter (batin) tradisi yang mengendap itu memberikan gesekan yang menjadi salah satu pemicu pergeseran itu.

"Matinya" Tokoh Psikologis?
Kembali pada masalah yang disampaikan Indra Tranggono, terutama tentang bergesernya tokoh psikologis ke tokoh sebagai penyosokan pikiran/ide. Dengan mencontohkan lakon-lakon seperti Mastodon dan Burung Kondor (Rendra); Kapai-kapai, Mega-mega, Umang-umang (Arifin C Noer); Aduh, Tai, Lho, Front (Putu Wijaya); memang benar terdapat "kematian" sebagaimana yang dimaksudkan Indra. Namun kebenaran itu harus didukung argumen bahwa yang dimaksud dengan "psikologis" adalah yang dipanglimakan dalam teater realisme Barat, karena memang lakon-lakon tersebut adalah nonrealisme.

Namun demikian, jika kita menilik tokoh Abu dalam Kapai-kapai Arifin C Noer misalnya, ia memiliki pergulatan psikis yang luar biasa. Mimpi-mimpi serta obsesinya bukankah hadir dari jagat psikologi? Tidakkah ini sumbangan realisme Barat yang oleh Arifin kemudian dilebur bersama apa yang disebut Indra Tranggono dengan "tokoh sebagai penyosokan pikiran/ide"? Dan dengan demikian kita dapat mengambil semacam hipotesa bahwa dalam lakon Kapai-kapai, tahapan realisme telah dilampaui oleh Arifin, dengan tetap membawa-serta spirit psikologinya, yang kemudian dibawa Arifin ke dalam estetika teater pilihannya sendiri. Atau menurut bahasa Putu Wijaya, pakem-pakem realisme yang tidak sepenuhnya terkuasai dan tidak sepenuhnya menguasai, menjadikan periode 70-80-an sebagai masa yang kreatif dan produktif dalam teater modern Indonesia, sehingga kemudian melahirkan apa yang disebut Putu sebagai "tadisi baru".

Apakah itu kemudian berdampak pada sistem dan disiplin pelatihan aktor? Tentu, ya. Tapi saya kira, dampak itu tidak negatif seperti yang diungkapkan Indra, bahwa aktor kemudian tidak lagi berkutat pada persoalan seni peran yang njelimet seperti dalam teater realisme. Jika ingin menggarap lakon Kapai-kapai dengan sublim dan kompleks, tentu saja proses "seni peran yang njelimet" itu mesti menjadi bagian dari sistem pelatihan aktor. Sebab bagaimanapun juga, jiwa tokoh-tokohnya tetap ada di sana, walaupun tidak diungkapkan dengan pola laku atau pengadegan yang wajar seperti dalam realisme.

baca lengkapnya ...

Lelaki Tua dan Kisah Purnama

Teks Monoplay: Ibed Surgana Yuga

Seorang lelaki tua tiba-tiba membelah kerumunan penonton dari belakang.

Selamat malam semuanya. Permisi, permisi, permisi .... (Gembira) Wah, banyak sekali orang di sini. Belum pernah kurasakan begini banyaknya orang di tempatku yang sempit ini. Oh, betapa tersanjungnya aku dikunjungi seperti ini. Terima kasih, terima kasih banyak atas kedatangan Anda semuanya.

Tapi ngomong-ngomong, ada acara apa gerangan Anda semua berkumpul di sini? (Tiba-tiba ia melihat orang-orang itu pada beranjak, berhamburan dan menghilang) Eh, e, mau ke mana kalian? Hei ..., kenapa kalian pergi? Hei, hei, duduklah barang sejenak lagi! Hei ...! (Sedih dan tertekan) Kenapa kalian tinggalkan aku lagi? Kenapa kalian cuma datang untuk jadi bayang-bayang? Sudah terlalu banyak bayangan di tempat ini. Bahkan yang kutunggu-tunggu pun cuma bayangan.

Lelaki tua itu – Smara namanya – adalah seorang kesepian. Tapi ia tak sendirian. Ia bersama Lawu, seekor anjing kesayangannya – bukan anjing betulan. Hari-harinya adalah hari-hari menunggu Ratih, seorang perempuan yang meninggalkannya. Ah, tepatnya bukan meninggalkan, tapi keterpaksaan oleh sebuah kejadian keparat yang memisahkan mereka. Lelaki tua itu tahu bahwa Ratih yang ditunggunya tak akan datang.

Setelah menyaksikan bayangan orang-orang yang pada pergi, Smara berkeliling ruangan, melihat-lihat tanpa tujuan.

Kembali lagi ke tempat ini. Selalu begini. Ya, ke mana lagi? Tak ada yang lain. Inilah satu-satunya rumah sekaligus penjara bagiku.

Menyadari semuanya tetap tidak berubah, Smara duduk, memandang kekosongan.

Apa kabarmu, Ratih. Sedang apa kau di sana, sayang? Mmm, biar kutebak. Kau pasti sedang baca novel Márquez. Kau sedang baca yang mana? Sang Jendral dalam Labirinnya? Klandestin di Chile? Atau Caldas? Ah, jangan-jangan kau baca lagi Seratus Tahun Kesunyian. Waktu itu kau sudah membacanya tujuh kali setelah sebulan kau mendapatkannya di toko buku bekas. Aku sekali saja sudah mumet dibuatnya. Dan kau selalu komentar, “Novel itu dinikmati, Smara sayang, bukan dipikir hingga mumet.” Tapi percayalah, aku suka Márquez. Benar. Aku tidak bohong. Ya, karena cerita-ceritanya selalu membuat kepalaku mumet. Itulah yang membuat aku suka padanya. Dan aku paling suka mengingat cerpennya yang berjudul Aku Hanya Datang untuk Memakai Telepon. Entah kenapa, tokoh Maria de la Luz Cervantes dalam cerpen itu – perempuan yang hendak mencari telepon itu – selalu kubayangkan adalah kau, Ratih. Yaaa, walaupun kau tidak suka aku membayangkan begitu.

Sedang musim apa di sana, Ratih? Musim hujan? Semi? Atau musim gugur? Musim salju? Wah, betapa beruntungnya kau bisa merasakan salju. Sejak kecil aku bermimpi didinginkan oleh salju. Bagiku, salju adalah benda putih khayali yang mendinginkan jiwa, tapi tak lantas membekukannya.

Di sini, asal kau tahu saja, Ratih, musim selalu tidak tentu. Tiba-tiba panas menyentak tak tertahankan. Aspal jalanan pun meleleh karenanya. Tiba-tiba hujan angin yang ganas. Atap rumah berhamburan. Pohon-pohon tumbang. Kau ingat, papan reklame yang di simpang kota itu, di mana di bawahnya kita bertemu untuk pertama kalinya, ia sudah roboh diterjang angin. Juga pohon beringin di alun-alun, di mana aku sering menunggumu pulang kerja.

Alam sudah tak bersahabat sekarang. Atau malah manusia yang mengingkari persahabatannya dengan alam? Yang kurasakan alam sering menjelma makhluk menakutkan yang beringas. Sering kali ia lebih beringas dari orang-orang itu. Aku tak tahan dengan suasana ini, Ratih. Aku mau pindah saja dari sini. Tapi ke mana? Hanya ini satu-satunya tempat yang kupunya. Lagian aku tidak mau menunggumu di tempat lain.

O ya, apa di sana juga sedang malam seperti di sini, Ratih? Atau di sana baru saja menginjak subuh, dengan ayam-ayam jago yang mulai berkokok? Kukuruyuk .... (Tertawa agak mengejek) Ah, apakah di sana ada ayam jago? Pasti tidak ada. Atau di sana tidak ada siang dan malam? Di sana tidak ada waktu yang harus dihitung? Di sana semuanya bergerak tanpa keberadaan waktu? Di sana .... Ooohh (menangis), di sana, di sana, di sana .... Di manakah sebenarnya kau, Ratih? Tempat macam apa yang diberikan orang-orang itu padamu?

(Seakan menolak kesedihannya) Ooo, tidak. Tidak. Aku sama sekali tidak bosan menunggumu. Aku belum lelah, Ratih. Lihatlah, aku masih demikian bersemangat menunggumu. Sebelum tubuh ringkihku ini dimakan tanah, aku akan tetap di sini. Ya, menunggumu. Seperti janjiku. Dan Lawu pun masih setia menunggu .... (tiba-tiba teringat sesuatu).

Lho (celingukan, mencari-cari), Lawu ..., Lawu ..., di mana kau, Lawu? Lawu ....

Smara mencari-cari ke segala arah. Ia seperti mengalami sebuah kehilangan yang besar. Tapi kemudian, Lawu – anjing kesayangan yang dicarinya itu – ditemukannya terbengong di sebuah sudut.

Hei, sedang apa di sana, Lawu? Kenapa kau bengong begitu? Sedang sedih? Sini anakku sayang. (Menghampiri Lawu, lalu mengambil dan mendekap, lalu membelai-belai bulunya)

Kenapa kau ikut sedih? Kau yang selalu meyakinkan aku untuk tidak bersedih, sekarang mengapa malah kau sedih, Lawu? Kau selalu bilang, kan, kalau ibumu pasti akan kembali? Ya, membawa tulang-tulang ikan dari rumah makan buatmu dan sebungkus rokok kretek buat ayahmu ini. Bukankah kau yang selalu bilang begitu, Lawu? Sudahlah, jangan menangis.

Kau memang tak lagi bisa makan tulang-tulang ikan yang lezat dan dengan cepat bisa membuatmu gendut. Sekarang kau cuma mendapat sejumput sisa makanan basi yang kukumpulkan dari bak-bak sampah pinggir jalan. Tubuhmu kian kurus. Aku juga tidak bisa menghisap rokok kretek lagi karena tak ada yang membelikannya.

Dulu, ketika aku masih perokok berat, paru-paruku selalu sakit, dadaku sesak, dan aku selalu pura-pura tak terjadi apa-apa. Biar ibumu tidak khawatir. Tapi sekarang setelah hampir empat puluh tahun tidak merokok, paru-paruku malah tambah parah. Mungkin ia sudah busuk. Asap demi asap rokok kretek itu menjelma ulat-ulat pengerat daging dalam tubuhku. Serupa belatung pemakan bangkai. Suaraku jadi serak sebelum waktunya. Volumenya menurun drastis hingga kau pun sering tak mendengar panggilanku.

Apakah ibumu tahu keadaan kita, Lawu? Ia pasti tahu. Ibumu punya kekuatan firasat yang luar biasa. Kau ingat, kan, ketika kau tertabrak mobil di depan rumah hingga kau pingsan dan mengalami luka dalam, ibumu langsung menelepon dari kantornya dan menanyakan apa yang terjadi denganmu. Dia benar-benar perempuan yang mengerti dan menyayangi kita.

Mmm? Jangan sampai tahu? Kenapa? Ya, kasihan juga kalau ibumu terus memikirkan kita. Aku takut ia lebih menderita dari kita.

Sudahlah, Lawu. Bermainlah sana. Aku mau di sini saja. Tubuhku makin tak sanggup mengantarmu jalan-jalan. (Melepas Lawu) Aaahh, jangan kau paksa aku untuk menemanimu. Jangan manja. Belajarlah bermain sendiri. Sana, ajak saja si ... eee .... Ah, siapa nama anjing Pak Hari itu? Aku lupa. Ajak saja dia jalan-jalan ke taman kota. Ingat, hati-hati kalau menyeberang jalan. Jangan lupa pulang sebelum tengah malam.

Apa? Kau mau di sini saja? Ya baiklah kalau begitu. Jalan-jalan saja keliling ruangan ini bila kau mau. Kalau mau kencing, mintalah aku untuk membuka pintu. Aku tahu kau sering diam-diam mengencingi tembok. Kau tak kan bisa mengibuliku, Lawu. Hidungku masih lumayan tajam untuk sekadar mencium bau kencing anjing. Mentang-mentang aku tua begini lantas kau kira aku sudah dungu? Begitu? Kau salah. Sana!

Duduk lagi memandang kekosongan.

Ratih, kenapa orang-orang itu hanya membawa kau? Mengapa aku tidak diseretnya serta, Lawu juga, sehingga kita masih bisa bersama walau di tempat asing yang menyakitkan? (Tertawa getir) Betapa bodohnya aku berharap begitu. Mereka itu orang-orang bengis yang cerdas. Mana mungkin ia memberi kesempatan pada orang yang saling menyayangi untuk selalu bersama, bahkan dalam rajaman sekali pun. Tidak. Mereka terlalu baik jika melakukannya.

Aku selalu mengingat saat itu. Walaupun aku ingin melupakannya, tapi setelah kupikir-pikir, jika aku berusaha melupakannya, itu berarti aku sedang berusaha melupakanmu, membuangmu. Tidak. Aku tidak ingin melupakanmu, Ratih. Makanya, aku selalu mengingat saat itu, kejadian itu, walau begitu menyayat.

Ketika itu purnama. (Tertawa geli) Aku sering memanggilmu dengan sebutan “Bulan”. Dan kau tak suka itu. Kau jengkel. Tapi aku terus memanggilmu “Bulan, Bulan, Bulan” hingga puncak kejengkelanmu memaksa untuk menyerah dan menerima panggilan itu. Lalu kian lama kau menerimanya sebagai semacam pengikat di antara kita. Kita jadi begitu menyenangi bulan, apalagi kalau sedang purnama.

(Kata-katanya mulai berat) Ya, ketika itu malam purnama. Kau sedang membacakan silsilah keluarga Jose Arcadio Buendia yang membingungkan itu padaku untuk ketiga kalinya. Tapi walaupun membingungkan, aku masih mengingat beberapa nama dari silsilah penuh incest dan haram jadah itu. Jose Arcadio, Aureliano, Segundo, Remedios, Amaranta, Ursula .... Dan tiba-tiba pintu diketuk dengan kasar oleh beberapa tangan. Kau berhenti pada silsilah tentang tujuh belas Aureliano. Lawu menggonggong tanpa henti.

Smara tersentak. Seakan-akan ketukan pintu yang diceritakannya terdengar saat itu juga. Ia bangkit, lalu beringsut menuju pintu.

Siapa? Ya, sebentar. (Membuka pintu) Mereka empat lelaki berseragam dengan pistol terselip di masing-masing pinggang mereka. Yang paling depan langsung mengangkat leher bajuku dengan kasar.

“Di mana kau sembunyikan Dewi Ratih Arianti?” tanyanya. Lalu tiga yang lain masuk dan menemukanmu. Mereka menyeretmu keluar dengan novel Seratus Tahun Kesunyian yang masih dengan erat kau pegang. Lawu terus menggonggong mengikutimu seakan berusaha membebaskanmu. Tiba-tiba salah satu dari mereka mengeluarkan pistolnya dan dorrr! Suara Lawu terputus. Kepalanya bocor. Tak bernapas lagi. Aku berusaha mengejarmu tapi orang yang memegangku mendorong tubuhku hingga roboh (melakukannya), lalu ia menginjak-injakku dengan sepatu larsnya (berlaku sedang dinjak-injak, kesakitan, minta tolong, memelas, mengerang).

Setelahnya aku lupa. Aku terjaga ketika siang sudah membakar halaman. Dan mayat Lawu masih di sana. Lalat-lalat mengerubunginya, menjilati darahnya yang mengering dan hitam.

Aku sama sekali tak paham kejadian macam apa itu. Bahkan sampai sekarang. Dan aku tak mau menanyakannya pada orang-orang sebab banyak juga dari mereka yang mengalaminya.

Aku hanya ingat sedikit kata-kata mereka yang samar terdengar. Mereka menyinggung pekerjaanmu. Ada apa dengan pekerjaanmu? Bukankah kau hanya seorang pewarta?

Orang yang memainkan monoplay ini melepaskan perannya.

Huuhhh ..., capai juga main teater. Penata lampu, tolong nyalakan lampu gedungnya. (Berdehem beberapa kali) Suara saya jadi serak. Minum dulu ah. Eh, pintunya ditutup dulu (menutup pintu yang tadi dibuka lelaki tua, lalu menuju tempat minuman lelaki tua dan meminum isinya sedikit). Eeehhkk ..., dasar minuman orang tua. Apek. Tapi lumayan buat membasahi tenggorokan (lanjut meminumnya hingga habis).

Penata makeup, tolong ambilkan cermin. Makeup saya rusak enggak nih?

Seseorang naik ke panggung membawakannya cermin.
Lalu orang itu bercermin sambil membenahi riasan wajahnya. Setelah selesai, lalu mengembalikan lagi cerminnya.

(Bertanya pada penonton) Bagaimana komentar Anda tentang nasib si Smara yang saya mainkan tadi?

Selanjutnya ia berimprovisasi dan melakukan dialog dengan penonton tentang si lelaki tua Smara. Hingga kemudian ia kembali memasuki perannya.

Apa kau ngantuk, Lawu? Lapar? Ya, aku juga lapar. Tapi kau tahu sendiri, tadi kita berkeliling kota mencari makanan, tapi tak seorang pun yang menyisakannya buat kita. Tempat minum ini juga sudah tak ada isinya. Sudah tidak ada belas kasihan lagi buat kita. Sini, Lawu anakku sayang (mengangkat Lawu). Tubuhmu makin kurus, tapi kian berat saja kurasa. Biar kupeluk kau (lalu memeluknya). Peluk jugalah ayahmu ini. Dengan saling berpeluk, rasa lapar akan hilang pelan-pelan. Aku masih ingin percaya kata orang-orang, cinta dapat mengalahkan apa saja.

Aku jadi teringat ketika kau kami angkat menjadi anak. Aku bertanya pada ibumu, mungkinkah manusia punya anak berupa anjing? Lalu ibumu menjawab, “Kalau Tuhan menghendaki, kenapa tidak? Cintalah yang membuat ia sah menjadi anak kita, bukan statusnya sebagai binatang.” Wah, aku suka sekali jawaban ibumu itu. Dan sejak itu kami mengangkatmu menjadi anak, walau kami belum menikah.

Kau mau kencing, Lawu? Bagus, kau sudah mulai sopan sekarang. Sini kuantar kau keluar (beranjak, membuka pintu dan menurunkan Lawu untuk kencing). Kencinglah. Kenapa? Kau malu kencing di depanku ya? (Tertawa) Jangan sok sopan. Tapi baiklah. (Membalikkan badan) Sekarang kencinglah. Aku tidak akan melihatnya. (Membalikkan badan lagi) Sudah? (Mengambil Lawu) Ya Tuhan, lihat Lawu, bulan sedang purnama. Tapi kenapa ia bersemu merah?

Smara tidak melanjutkan pandangannya pada bulan. Ada semacam ketakutan, walau terbersit raut kerinduan. Bergegas ia menutup pintu, lalu duduk lagi sambil memangku Lawu.

Sekarang aku didera perasaan rindu sekaligus dendam pada bulan purnama. Seakan purnama telah memberi dan kemudian merebutnya kembali.

Kau sudah ngantuk, Lawu? Mari kuantar kau ke tempat tidurmu. (Beringsut menuju sebuah sisi lantai, lalu menidurkan Lawu di lantai setelah sebelumnya mengalasi dengan jaket yang dipakainya) Tidurlah yang nyenyak, Lawuku sayang. Kita lawan segalanya ini. Mimpilah jika kau masih bisa bermimpi.

(Duduk kembali) Ratih, sekarang bulan purnama. Tapi aku sering benci melihatnya, dan di saat yang sama aku juga sangat rindu memandangnya. Kau pernah ceritakan padaku tentang gurat kelabu di bulan itu. “Lihatlah, Smara sayang, warna kelabu yang hampir memenuhi separuh bulatan bulan itu,” katamu sambil menunjuk bulan yang sedang purnama. Lalu kau bilang, warna kelabu itu adalah pohon beringin. Di bawahnya, seorang gadis tengah menenun kain ditemani seekor anjing. Gadis itu menenun di sana, begitu setia, entah sejak kapan, entah sampai kapan.

Lalu kukatakan padamu, gadis itu adalah kau, dan anjingnya adalah Lawu anak kita. Kau terdiam, lalu pelan bertanya, “Lalu kau di mana, Smara sayang?” Ya, di mana aku? Sampai sekarang aku tak bisa menjawabnya. Kau pun tak menemukan jawaban, walau sekadar kiasan, walau sekadar dusta.

Ketika kecil, di kampung pedalaman sana, aku selalu takut pada gerhana bulan. Ketika hal itu terjadi, orang-orang seperti kalang kabut, mereka memukul ketongan, lesung, atau apa pun yang bisa berbunyi. Mereka berteriak “Gerhana! Gerhana! Gerhanaaa ...!” Aku ketakutan dan bersembunyi di ketiak ayahku, tak berani untuk sekadar melirik bulan. Ayah bilang, bulan mau dimakan Kala. Kala adalah makhluk jahat yang ingin memiliki bulan dengan menelannya. Maka, kami harus menabuh bebunyian, agar Kala ketakutan dan urung memakan bulan.

Tapi, bagaimana pun juga aku begitu rindu melihat bulan purnama. Ya, aku tak dapat membohongi diri sendiri. Masihkah kau di sana, Ratih? Menenun kain di bawah pohon beringin?

Smara beranjak menuju pintu, membukanya, lalu memandang langit. Dia tersentak.

Ya Tuhan, gerhana bulan! (Menjadi kalut, kebingungan, ketakutan) Lawu! Lawu! Bangunlah, Lawu! (Menuju tempat tidur Lawu) Bangun, Lawu! Bulan sedang gerhana.

Tapi Lawu tak mau bangun.
Smara mondar-mandir kalang kabut, antara luar pintu dan tempat tidur Lawu.

Bangun, Lawu! Kala hendak memakan ibumu. Ya Tuhan .... Sabar, Ratih sayang, tak kan kubiarkan Kala jahat itu menelanmu. (Lalu ia mengambil tempat minumnya dan memukul-mukulnya) Pergi kau, Kala! Jangan ganggu Ratihku. Ya Tuhan, bulan makin kelam. Kala berhasil menelannya.

(Tertekan. Menangis) Ratih sayang, maafkan aku yang tak bisa menyelamatkanmu untuk kedua kalinya. Tapi percayalah, aku masih menunggumu di sini. Percayalah, Ratihku.

Orang yang memerankan Smara kembali melepaskan perannya.

(Berdehem karena suaranya serak) Bila Anda jalan-jalan ke sebuah kota yang punya persimpangan dengan bekas papan reklame yang roboh di pinggirnya, susurilah jalan yang menuju arah matahari terbit. Tidak sampai satu kilometer, di depan sebuah tokok bahan bangunan, Anda akan melihat sebuah rumah tua, kecil dan kelam. Di sanalah Smara dan Lawu menunggu Ratih. Hingga sekarang.

Jogja, April 2008

Catatan:
Mementaskan naskah ini mohon memberitahu penulis
ibed_sy@yahoo.com

baca lengkapnya ...

Teater dalam Sekejap dan Penonton yang Pecah

Oleh: Ibed Surgana Yuga

Teater mati setelah pementasannya selesai. Sedangkan film tidak. Sebaliknya, ada yang bilang teater "mengalami kehidupannya" dalam waktu yang panjang di kepala penonton, justru setelah pementasannya selesai.

Pertanyaannya, berapa banyakkah penonton teater kontemporer Indonesia yang mempunyai pengalaman menonton seperti itu? Berapa banyak kelompok teater yang mampu membawa penonton ke dalam pengalaman yang demikian?


Bukan wacana baru lagi bahwa telah banyak usaha yang dilakukan para kreator teater untuk memposisikan penonton sebagai "yang bukan sekadar penonton", yang tidak selesai hanya pada tataran melihat dan mendengar pementasan yang ditontonnya. Para kreator teater mencoba memposisikan penonton sebagai bagian dari kesatuan utuh peristiwa teater. Sudah sering ditulis tentang gebrakan Antonin Artaud yang meniadakan perbedaan antara aktor dan penonton, yang berarti meniadakan jarak antara keduanya. Ia ingin agar penonton juga mengalami suasana dramatis seperti aktor. Dalam dunia teater kontemporer di Indonesia, beberapa kreator teater mencoba membangun spirit ritual dalam pementasan-pementasan yang digelarnya, sebagaimana yang terjadi dalam teater-teater tradisional daerah Indonesia. Dan banyak lagi konsep lain yang pada dasarnya bertujuan meniadakan jarak antara panggung dan penonton.

Namun usaha-usaha tersebut agaknya tidak (atau jarang) menemukan jalan yang mulus. Dalam hubungannya dengan penonton, teater kontemporer Indonesia juga sedang menghadapi suatu kenyataan di luarnya, yang kian menjauhkan teater dari penonton. Salah satu kenyataan itu adalah suatu sistem bernama televisi, yang jauh lebih berhasil mendekatkan dirinya dengan penonton. Televisi telah dengan sukses menciptakan ritual dengan pemirsanya. Dalam ruang yang sama dengan ruang pemirsa televisi itu, seakan sangat sulit untuk mengatakan bahwa penonton ("yang benar-benar penonton") teater kontemporer Indonesia itu ada – bahkan untuk sekadar membayangkannya sekali pun.

Banyak intelektual yang berpendapat bahwa bangsa Indonesia tengah mengalami situasi sosiokultural yang mengambang. Sudah sering kita dengar wacana tenatng bangsa Indonesia yang tengah berada dalam situasi yang "tradisional bukan, modern pun bukan". Dalam keadaan seperti itu, identitas manusia di dalamnya sangat sulit untuk dibaca. Manusia seperti pecahan-pecahan dari berbagai benda berbeda (bentuk, fungsi, sejarah), yang berserak di satu tempat, yang beberapa pecahan lagi hilang entah ke mana. Pecahan-pecahan seperti itu sulit untuk dibentuk menjadi suatu benda utuh yang – dengan referensi – dapat dikenali. Akan sangat baik jika ia bisa menjadi suatu benda baru yang jelas keberadaan, fungsi, sejarah, dan maknanya. Namun kenyataan mengatakan tidak. Harus dicatat pula bahwa fenomena ini bukan hanya terjadi di wilayah urban perkotaan, namun juga di pelosok-pelosok yang sering diklaim kehidupan manusianya masih tradisional, masih asli.

Di sana pula, di ranah sosiokultural yang mengambang itu, para kreator teater menjalani kesehariannya dan berkarya. Mereka hidup tidak dalam posisi yang netral, dalam artian bahwa mereka juga menjadi bagian dari situasi mengambang itu. Posisi yang demikian kemudian sering menggiring banyak kreator teater untuk berkarya dengan pretensi berdialog dengan penonton melalui bahasa yang universal. Bahasa yang konon dimengerti semua orang. Padahal seperti apa bahasa yang universal itu, tidak ada definisi maupun bentuknya yang konkret. Teater pun menjadi sesuatu yang abstrak. Dan seturut dengan Goenawan Mohamad dalam Seks, Sastra, Kita (1981), teater yang abstrak adalah sesuatu yang mustahil. Ia akan kehilangan dirinya sendiri.

Maka pementasan teater menjelma sebagai "budaya baru yang asing" bagi penonton. Di atas panggung, berbagai bentuk spektakel yang dengan susah-payah diciptakan kreator adalah dunia yang aneh, membingungkan, atau bahkan memuakkan bagi penonton. Pementasan teater tak ubahnya mimpi buruk yang ingin segera dilewatkan dari tidur penonton. Lalu ketika pementasan selesai, penonton akan begitu saja menganggapnya sebagai bukan peristiwa penting, atau sekadar mahluk yang numpang lewat di depan matanya. Teater yang demikian bagi penonton bisa jadi hanya peristiwa sepintas lalu yang dengan mudah dilupakan, atau semacam basa-basi, say hallo semata. Teater bergerak dalam sekejap mata, layaknya iklan di televisi. Tak ada sisa yang tertinggal di saku penonton, untuk mereka periksa di rumah. Di sinilah pementasan teater mengalami kematiannya. Apalagi didukung dengan keberadaan bangsa Indonesia yang telah lama dididik oleh rezim yang – sering tanpa disadari – menerapkan sistem pendidikan yang menggiring ke arah pelupaan sejarah dan budaya. Peristiwa besar yang berbulan-bulan dan memakan banyak korban saja begitu mudah dilupakan, apalagi pentas teater yang tidak sampai semalam suntuk.

Pementasan yang sok berbahasa universal (dan abstrak) hanya akan semakin menyerpih pecahan-pecahan tubuh penonton. Masih untung jika masih ada yang mau datang untuk menonton pementasan selanjutnya. Itu pun biasanya hanya teman-teman dekat saja, yang datang dengan simpati pertemanan, dan belum tentu mau merelakan empatinya terhadap apa yang mau disampaikan pementasan. Atau penonton yang mengalami keterpecahan lain, yaitu penonton yang terpecah antara mengkritisi dari segi kualitas artistik (biasanya terjadi pada penonton yang mempunyai latar belakang pengetahun seni teater), dan di saat yang sama mencoba menyelami wacana atau pesan yang hendak disampaikan pementasan. (Hati-hati dengan penonton jenis ini! Belum tentu ia memahami dan mengapresiasi betul apa yang terjadi di atas panggung.)

Masih menurut Goenawan Mohamad, teater tradisional maupun teater kontemporer Indonesia adalah bentuk-bentuk ekspresi "minoritas". Semuanya adalah teater-teater "minoritas", yang dengan demikian harus memilih publiknya sendiri, yang intim dengannya. Saya membacanya sebagai teater yang mampu "berbahasa" sesuai dengan karakter (hingga yang spesifik sekali pun), dan menjadi bagian yang integral, guyub, dari ruang tempatnya dan penontonnya yang spesifik.

Beberapa kreator teater kontemporer Indonesia akhir-akhir ini masih melakukan berbagai eksplorasi baru guna melakukan dialog dengan penonton yang saya sebut pecah di atas. Sejauh yang pernah saya baca misalnya, sebuah tulisan Yudi Ahmad Tajudin (Teater Garasi) yang berpendapat bahwa dalam situasi sosiokultural yang setidaknya persis dengan apa yang saya paparkan di atas, yang menurut Yudi pada dasarnya mempunyai sensibilitas ruangnya tersendiri, dia menemukan tawaran-tawaran baru dalam proses kreatif teaternya. Selain itu, dalam sebuah koran nasional edisi Minggu, Radhar Panca Dahana pernah menulis bahwa kecenderungan pementasan beberapa kelompok teater kontemporer Indonesia membuktikan teater sebagai bahasa teraktual dalam merepresentasikan kenyataan sosial, yang mana di dalamnya terdapat manusia-manusia yang kehilangan identitas.

Pendapat atau sikap dua tokoh di atas mendapat peluang yang cukup besar untuk menemukan pembenarannya dalam ruang kehidupan bangsa Indonesia saat ini. Namun harus dipertimbangkan juga bahwa ruang serta kenyataan yang ada di dalamnya seringkali menunjukkan gejala-gejala dan karakter-karakter yang spesifik. Semuanya tidak dapat disederhanakan. Dan saya kira adalah sebuah kecelakaan yang fatal jika kreator teater menyederhanakan penonton.

baca lengkapnya ...